Sejarah Perkembangan Psikologi

 


Secara garis besarnya sejarah psikologi dapat di bagi dalam dua tahap, yaitu masa sebelum dan masa sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri ( psikologi  menjadi ilmu yang berdiri sendiri baru dimulai pada tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1832-1920) mendirikan laboratorium psikologi pertama di kota leipzig, Jerman.

Sebelum tahun 1879, psikologi dipelajari oleh para ahli filsafat dan para ahli ilmu fasal (phisiologi), sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua ilmu tersebut. Para ahli ilmu filsafat kuno, seperti plato, Aristoteles dan Socrates telah memikirkan jiwa dan gejala-gejalanya. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mempeljari hakikat sesuatu dengan menciptakan pertanyaan dan jawaban secara terus-menerus sehingga mencapai pengertuan yang hakiki tentang sesuatu. Pada waktu itu belumada pembuktian secra empiris, melainkan berbagai teori dikemukakan berdasarkan argumentasi logika belaka. Psikologi benar-benar msih merupakan bagian dari filsafatd alam arti semurni-murninya.

Pada Abad pertengahan, psikologi masih merupakan bagian dari filsafat sehingga objeknya tetap hakikat jiwa dan metodenya masih menggunakan argumentasi logika. Tokoh-tokohnya antara lain: Rene Descrates (1596-1650) yang terkenal dengan teori tentang kesadaran, Gottfried Wilhelm leibniz (16446-1716) yang mengutarakan teori kesejahteraan psikofhisik (psychophisical paralellism), John Locke (1623-1704) dengan teori tabula rasa, bahwa jiwa anak yang baru lahir masih bersih seperti papan lilin atau kertas putih yang belum ditulisi. Pada masa sebelumnya masalah kejiwaan dibahas pula oleh para ulama islam seperti Imam Al-gazali (wafat 505 H), Imam fachrudin Ar-Razi (wafat 606 H). Pembahasan masalah psikologis merupakan bagian dari ilmu usuluddin dan ilmu tasawuf.

Disamping para ahli filsafat yang menggunakan logika, para ahli ilmu faal juga melai menyelidiki gejala kejiwaan melalui experimen-experimen. Walaupun mereka menggunakan metode ilmiah (empiris), namaun yang mereka selidiki terutama tentang urat syaraf pengindraan (sensoris), syaraf motoris (penggerak), pusat sensoris dan motoris di otak, serta hukum-hukum yang mengatur bekerjanya syaraf tersebut. Dengan demikian gejala kejiwaan yang mereka selidiki hanya merupakan bagian dari objek ilmu faal dengan metode yang lazim digunakannya. Diantara para tokohnya adalah: C Bell, F. Magendie, J.P. Muller, P. Broca dan I.P Pavlov.

Masa sesudah psikologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri merupakan masa di mana gejala kejiwaan dipelajari secara tersendiri dengan metode ilmiah, terlepas dari filsafat dan ilmu faal. Gejala kejiwaan dipelajari secara sistematis dan objektif. Selain metode experimen digunakan pula metode intropeksi oleh W. Wundt. Gelar kesarjanaan W. Wundt adalah bidang kedokteran dan hikum. Ia dikenal sebagai sosiolog dan filosof dan orang pertama yang mengaku dirinya sebagai psikolog. Ia dianggap sebagai bapak psikologi. Sejak itu psikologi berkembang pesat dengan bertambahnya sarjana psikologi, penyusun teori-teori dan keragaman penikiran-pemikiran baru. Psikologi mulai bercabang ke dalam berbagai aliran.

Psikologi menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri dalam hal isi, metode dan penggunaannya dimulai pada abad ke-19.

Wilhelm Wundt dapat dikatakan sebagai bapak psikologi modern, ia telah berusaha untuk menjadikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri (otonom). Sebelum abad ke 19, psikologi merupakan bagian dari filsafat. Meskipun demikian, persoalan psikologi telah ada sejak ratusan tahun sebelum masaehi, mansuia telah mempersoalkan masalah “jiwa” atau “roh”, baik hakekatnya maupaun hhubungannya dengan manusia. Perbedaan cara memecahkan masalah jiwa di masa lampau dengan masa modern, terutam terletak dalam cara pendekatannya. Pemecahan masalah dimasa lampau bersifat filosofis dan atomistis, sedang di masa modern dengan pendekatan scientific (ilmiah), yaitu melalui penelitian-penelitian empirik.


Terdapat tiga fase perkembangan psikologi, yaitu :

1. Psikologi sebagai bagian dari filsafat

2. Psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri

3. Psikologi modern dalam abad ke 20


A. Psikologi sebagai bagian dari Filsafat (Psikologi Kuno)

Pada zaman dahulu, psikologi dipengaruhi oleh cara-cara berfikir filsafat dan terpengaruh oleh filsafatnya sendiri. Hal ini dimungkinkan karena para ahli psikologi pada masa itu juga adalah ahli-ahli filsafat, atau para ahli filsafat pada waktu itu juga ahli psikologi (tentang kejiwaan).

Pengaruh filsafat terhadap psikologi kuno, berlangsung sejak zaman Yunani kuno samapai pada zaman pertengahan dan zaman baru. Tegasnya pengaruh tersebut berlangsung dari 400 SM sampai dengan 1800 SM.

Pada zaman Yunani kuno terkenal dua orang tokoh filsuf, yaitu Plato dan Aristotelles yang keduanya banyak menyelidiki hidup kejiwaan manusia serta alam ini. Plato terkenal dengan aliran berfikirnya yang disebut idealisme, sedang Aristoteles terkenal dengan aliran realisme. Tetapi meskipun berbeda, aliran, dalam soal kejiwaan mereka tidak jauh berbeda, baik dalam penyelidikannya ataupun pendapatnya.

Beberapa aliran psikologi yang muncul pada fase ini diantaranya, yaitu: psikologi Plato, Psikologi Aristoteles, Psikologi Augustine, Psikologi pada masa renaissance dan abad ke-17, psikologi asosiasi, psikologi elementer (unsur) dari Herbart dan psikologi fisisologi.

1.    Psikologi plato (427-347 SM)

        Plato dilahirkan pada tanggal 29 Mei 429 SM di Athena. Ia terlahir di “kalangan terhormat”, Ayahnya , Ariston disebut-sebut sebagai titisan dari dewa Poseidon. Plato adalah murid Socrates ( 469-399 SM ), Seorang ahli filsafat yunani. Ajaran Plato disebut “Ajaran cita” atau “Ide”. Ide yang tertinggi adalah Tuhan , segala sesuatu itu berasal dari alam ide dan akan kembali ke alam ide.

            Plato menyatakan bahwa, dunia kejiwan berisi ide-ide yang berdiri sendiri-sendiri, terlepas dari pengalaman hidup sehari-hari. Hal ini terutama terdapat pada orang dewasa dan kaum intelektual. Orang dewasa dan kaum intelektual dapat membedakan mana yang jiwa dan mana yang badan. Tetapi sebaliknya pada anak-anak, jiwa masih dicampur adukan dengan badan, belum bisa memisahkan antara ide dan benda-benda konkrit. Jiwa yang berisi ide-ide ini oleh Plato diberi nama “psyche”. Psyche, menurut plato terbagi tiga, yang disebut trichotomi, yaitu:

a.       Berpikir/pikiran, berpusat di otak dan disebut logisticon;

b.      Kemauan/kehendak, berpusat di dada dan disebut thumeticon

c.       Keinginan/nafsu, berpusat di perut dan di sebut abdomen.

                   Selanjutnya Plato mengatakan pula bahwa pembagian psyche ke dalam tiga bagian

 itu ada hubungannya dengan pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu:

a.       Kaum filusuf, yang mempunyai fungsi berpikir dalam masyarakat;

b.      Kaum prajurit, yang mempunyai fungsi berperang untuk memenuhi dorongan-dorongan dan kehendak masyarakat terhadap bangsa lain;

c.       Kaum pekerja, yang funsinya bekerja untuk memenuhi keinginan masyarakat akan makan, pakaian, perumahan dan sebagainya.

            Bagi Plato dari ketiga bagian psyche itu, fungsi berpikirlah yang terpenting. Keadaan jiwa dan arah perkembangan jiwa seseorang itu dipengaruhi terutama sekali oleh fungsi berpikir orang yang bersangkutan. Dalam masyarakatpu kaum filusuflah yang paling menentukan keadaan dan arah perkembangan masyarakat tersebut. Karena pendapatnya itu, Plato sering disebut orang rasionalis atu penganut paham rasionalisme, yaitu paham yang mementingkan akal di atas fungsi kejiwaan yang lain.

2.      Psikologi aristoteles (384-322 SM)

             Aristoteles adalah seorang Filosof yunani yang di lahirkan di Stagirus (Stagira). Chelecidice, sebelah barat laut Aegenito , adalah putra dari Nichomacus, tabib pribadi istana raja di Macedonia, juga sebagai anggota serikat kerja medic yang di sebut Jons of Aculapius. Sumbangannya terhadap psikologi lebih besar dari plato.Aristoteles adalah murid plato yang kemudian terkenal dengan pikiran-pikirannya sendiri yang berbeda dari gurunya. Kalau plato adalah seporang raisonalis yang percaya bahwa segala sesuatu bermula dari rasio, dari ide-ide yang dihasilkan oleh rasio itu, Aristoteles berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang berbentuk kejiwaan (form) harus menempati suatu wujud tertentu (matter). Wujud ini pada hakekatnya merupakan pernyataan atau ekspresi dari jiwa. Hanya Tuhanlah satu-satunya hal yang tanpa wujud. Tuhan adalah “form” saja tanpa “matter”. Dengan pandangannya ini Aristoteles sering disebut sebagai penganut paham empirisme, karena menurut pendapatnya segala sesuatu harus bertitik tolak dari realita, yaitu dari “matter” itu. Matter yang dapat dapat diketahui melalui pengamatan atau pengalaman empiris merupakan sumber utama dari pengetahuan. Dengan pendapatnya ini, ia sering disebut bapak psikologi empiris.

              Berbicara tentang “form”, aristoteles membedakan tiga macam “form” yaitu “plant” yang mengontrol fungsi-fungsi vegetatif, “animal” yang dapat dilihat dalam fungsi-fungsi seperti berkhayal, mengingat, berharap, persepsi, dsb. “rasional”. Rasional inilah yang memungkinkan manusia melakukan penalaran dan membentuk konsep-konsep.

             Pandangan dan teori-teori Aristoteles tentang Psikologi dapat dilihat dalam bukunya yang terkenal De Anima, yang sesungguhnya merupakan buku tentang ilmu hewan komparatif dan biologi. Dalam buku itu ia mengatakan bahwa setiap benda di dunia ini mempunyai dorongan untuk tumbuh dan menjadi sesuatu sesuai dengan tujuan yang sudah terkandung dalam benda itu sendiri.

Dalam “De Anima”, Aristoteles mengemukakan beberapa macam tingkah laku manusia dan adanya perbedaan tingkat tingkah laku pada organism-organisme yang berbeda-beda. Tingkah laku pada organism. Menurut aristoteles, memperlihatkan tingkatan-tingkatan, sebagai berikut:

a.         Tumbuhan       : memperlihatkan tingkah laku taraf vegetatif  (bernafas, makan, tumbuh).

b.        Hewan: selain tingkah laku vegetatif , juga bertingkah laku sensitif (merasakan melalui panca indra). Jadi, hewan berbeda dari tumbuhan karena hewan mempunyai faktor perasaan, sedangkan tumbuhan tidak. Persamaannya adalah pada tumbuhan maupun hewan terdapat tingkah laku vegetatif, misalnya dalam hal peredaran makanan.

c.         Manusia: manusia bertingkah laku vegetatif, sensitif, dan rasional. Manusia berbeda dari organism-organisme yang lain , karena dalam tingkah laku , manusia menggunakan rasionalnya, yaitu akal atau pikirannya.

            Aristoteles selanjutnya membedakan antara hule dan morphe. Hule (Noes Photeticos) adalah “yang terbentuk”. sedangkan Morphe (Noes Poeticos) adalah “yang membentuk”. Benda dalam alam tidak tumbuh dan berkembang begitu saja, tetapi menjadi atau diperkembangkan menjadi sesuatu. Sebelum benda itu terwujud benda itu berupa kemungkinan. Selanjutnya Aristoteles membedakan tiga macam form, yaitu: Plant, yang mengontrol fungsi-fungsi vegetatif; Animal, dapat dilihat dalam fungsi-fungsi seperti: mengingat, mengharap, dan persepsi; Rasional, yang memungkinkan manusia malakukan penalaran (reasoning) dan membentuk konsp-konsep.

             Pada manusia dorongan dorongan itu berbentuk dorongan untuk merealisasi diri (self realization) yang disebut “entelechi”.

Menurut Aristoteles fungsi dari jiwa dibagi dua yaitu

·         Kemampuan untuk mengenal

·         Kemampuan berkehendak.

Pandangan ini terkenal sebagai “dichotomi”.

3.      Psikologi Augustine (354-430)

             Teori Gall dikembangkan dari pandangan Psikologi Fakultas (Faculty Psychology) yang dikemukakan seorang tokoh gereja bernama St. Agustine (354-430). Menurut Agustine, dengan mengeksplorasi kesadaran melalui metode “introspeksi diri”, dalam jiwa terdapat bagian-bagian atau fakultas (faculties). Fakultas tersebut antara lain: ingatan, imajinasi, indera, kemauan, dan sebagainya. Menurut Gall, karena setiap fakultas kejiwaan dicerminkan pada salah satu bagian tertentu di tengkorak kepala maka dengan mengetahui bagian-bagian tengkorak mana yang menonjol kita akan mengetahui fakultas-fakultas kejiwaan mana yang menonjol pada orang tertentu sehingga kita dapat mengetahui pula keadaan jiwanya. Teori dari Gall tersebut dikenal dengan Phrenologi. Teori yang seolah-olah ilmiah ini pada dasarnya hanya bersifat ilmiah semu (pseudo science). Metote lainnya yang juga bersifat ilmiah semu antara lain: Phiognomi (Ilmu Wajah/Raut Muka), Palmistri (Ilmu Rajah Tangan), Astrologi (Ilmu Perbintangan), Numerologi (Ilmu Angka-angka), dan sebagainya. 

               Augustine memperkenalkan beberapa konsep yang penting dalam psikologi. Manusia pada dasarnya bersumber pada alam. Dalam diri manusia sudah ada dua dorongan  yang diberikan alam, yaitu dorongan jahat dan dorongan baik. Dorongan jahat harus ditekan dan dilawan, tapi dorongan baik harus dirangsang agar tumbuh terus untuk mencapai kesempurnaan kepribadian. Manusia harus dibersihkan dari dosa dan kesalahan. Untuk itu maka perasaan takut harus ditimbulkan dalam diri orang agar orang itu tidak melakukan dosa. Augustine mengatakan bahwa cara untuk menumbuhkan rasa takut dalam diri manusia itu bermacam-macam, karena pada hakekatnya tidak ada dua orang yang persis sama.

 

 4.      Psikologi pada masa Renaissance dan abad ke-17

            Bagi perkembangan ilmu pengetahuan , masa renaissance adalah suatu masa yang cerah, karena pada saat itulah mulai berkembangnya ilmu-ilmu pengetahuan dengan pesat, termasuk psikologi tentunya. Ilmu pengetahuan dirasakan sebagai suatu cara yang obyektif  di dalam memahami dan memecahkan masalah-masalah ilmiah.

            Situasi masa renaissance tersebut besar pengaruhnya bagi perkembangan psikologi pada waktu itu. Descartes (1596-1650) di Perancis merupakan seorang besar dalam psikologi pada masa renaissance. Ia membedakan kelakuan manusia dengan hewan. Tingkah laku hewan berdasarkan pada prinsip mekanistis, sedangkan manusia disamping secara kualitatif  juga bersifat mekanistis, manusia mempunyai kemampuan untuk bebas memilih. Manusia mampu berinisiatif, sedangkan hewan tidak. Tindakan manusia bagian yaitu: (1) alam mekanik dan (2) alam rasio.

            Pada masa Renaissance, di Francis muncul Rene Decartes (1596-1650) yang terkenal dengan teori tentang “kesadaran”, sementara di Inggris muncul tokoh-tokoh seperti John Locke (1623-1704), George Berkeley (1685-1753), James Mill (1773-1836), dan anaknya John Stuart Mill (1806-1873), yang semuanya itu dikenal sebagai tokoh-tokoh aliran Asosianisme. Dalam perkembangan Psikologi selanjutnya, peran sejumlah sarjana ilmu Faal yang juga menaruh minat terhadap gejala-gejala kejiwaan tidak dapat diabaikan. Tokohnya antara lain: C. Bell (1774-1842), F. Magendie (1785-1855), J.P. Muller (1801-1858), P. Broca (1824-1880), dan sebagainya. Nama seorang sarjana Rusia, I.P. Pavlov (1849-1936), tampaknya perlu dicatat secara khusus karena dari teori-teorinya tentang refleks kemudian berkembang aliran Behaviorisme, yaitu aliran dalam psikologi yang hanya mau mengakui tingkah laku yang nyata sebagai objek studinya dan menolak anggapan sarjana lain yang mempelajari juga tingkah laku yang tidak tampak dari luar. Selain itu, peranan seorang dokter berdarah campuran Inggris-Skotlandia bernama William McDaugall (1871-1938) perlu pula dikemukakan. Ia juga telah memberi inspirasi kepada aliran Behaviorisme di Amerika dengan teori-teorinya yang dikenal dengan nama “Purposive Psychology”. Sementara para sarjana Filasafat maupun ilmu Faal berusaha untuk menerangkan gejala-gejala kejiwaan secara ilmiah murni, muncul pula orang-orang yang secara spekulatif mencoba untuk menerangkan gejala-gejala kejiwaan dari segi lain. Diantara mereka adalah F.J. Gall (1785-1828) yang mengemukakan bahwa jiwa manusia dapat diketahui dengan cara meraba tengkorak kepala orang tersebut.

 

5.      Psikologi assosiasi

              Psikologi ini berusaha mempelajari jiwa dengan metode analistis-syntetis, seperti yang digunakan dalam ilmu alam, karena psikologi tersebut mempunyai anggapan bahwa jiwa itu terdiri dari elemen-elemen atau kumpulan unsur-unsur yang berproses menurut hukum-hukum yang pasti, yaitu hukum sebab akibat dan hukum assosiasi. Jiwa dipandang sebagai mesin yang berjalan secara mekanis menurut hukum-hukum tertentu, jadi jiwa dengan demikian dipandang pasip, yang aktif adalah hukum-hukum yang menggerakannya. Aliran psikologi ini mengutamakan tanggapan-tanggapan, ingatan-ingatan serta penginderaan.

 

6.      Psikologi Elementer (unsur) dari Herbart

              Herbart adalah seorang ahli psikologi dan pendidikan bangsa jerman yang menentang ajaran kekuatan kejiwaan, yaitu ajaran yang mengatakan bahwa jiwa mempunyai kekuatan-kekuatan khusus. Menurut pendapatnya jiwa itu terbentuk oleh karena adanya tanggapan-tanggapan. Dengan demikian, teori Herbart ini disebut “teori tanggapan“ (voorstelings theorie). Dengan menggunakan metode sintetis-analitis, ia mengemukakan pendapat bahwa jiwa terdiri dari dua lapisa yaitu: jiwa yang disadari dan jiwa yang tidak disadari, diantara keduanya terdapat ambang kesadaran. Tidak semua tanggapan itu disadari, karena di antara tanggapan yang masuk terdapat pertentangan yang saling tolak menolak.

 

7.      Psikologi Fisiologi

              Psikologi ini juga terpengaruh oleh ilmu alam. Adapun salah satu tokohnya yaitu: Johannes Muller yang berhasil mendapatkan hukum kekuatan khusus dari pada indera, yang antara lain menyatakan bahwa masing-masing tanggapan itu menyebabkan timbulnya kekuatan atau reaksi yang khusus terhadap jenis tanggapan yang diterima melalui panca indera tersebut. Paham ini sebagai contoh psikologi yang dipengaruhi ilmu pengetahuan alam, baik metode maupun pendapatnya.

B. Psikologi sebagai Ilmu Pengetahuan yang berdiri sendiri

Akhir abad ke 19 merupakan titik permulaan daripada psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri yaitu sejak Wilhelm Wundt (Jerman, tahun 1832-1920) melepaskan psikologi dari filsafat serta ilmu pengetahuan alam. Wundt adalah seorang pelopor usaha tersebut dengan mendirikan “laboratorium psikologi’ yang pertama kali, yaitu pada tahun 1875, kemudian laboratorium tersebut disahkan dan diakui oleh Universitas-Leipziq pada tahun 1886. Sejak pengesahan tersebut berarti psikologi menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Sejak psikologi berdiri sendiri dengan menggunakan metode-metodenya sendiri dalam pembuktian-pembuktian dan dalam penyelidikannya, maka timbullah berbagai macam aliran psikologi yang bercorak khusus. Adapun ciri-ciri khusus sebelum abad ke 18 antara lain adalah:

a.       Bersifat elementer, berdasarkan hukum sebab akibat;

b.      Bersifat mekanis;

c.       Bersifat sensualitis-intelektualistis (mementingkan pengetahuan dan pikir);

d.      Mementingkan kuantitas;

e.       Hanya mencari-cari hukum;

f.       Gejala-gejala jiwa dapat dipisahkan dari subyeknya;

g.      Jiwa dipandang pasif;

h.      Terlepas dari materi-materi.

Dengan otonominya sebagai ilmu pengetahuan itu maka sejak tahun 1990 timbullah aliran-aliran baru yang bersifat khusus, seperti: ilmu jiwa dalam, psikologi pikir, psikologi individual, behaviorisme, psikologi gestalt, psikologi kepribadian dan masih banyak aliran lainnya.

Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa  ilmu yang tertua adalah ilmu Filsafat,karena filsafat merupakan satu – satunya ilmu pada waktu itu.Ilmu yang tergabung dalam filsafat akan dipengaruhi sifat – sifat dari filsafat.Demikian pula dengan Psikologi,tetapi kemudian disadari bahwa filsafat sebagai satu – satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia,karena kehidupan tidak cukup hanya diterangkan dengan filsafat.Demikianlah,maka ilmu – ilmu yang tergabung dalam filsafat memisahkan diri dari filsafat termasuk psikologi,dan berdiri sendiri sebagai ilmu yang mandiri ( Marx 1976 ).Hal itu karena psikologi membutuhkan hal – hal yang bersifat objektif,positif,dan tidak berdasarkan atas renungan – renungan spekulasi.

Abad ke – 17 merupakan abad berkembangnya ilmu pengetahuan(science),sehingga muncul pandangan – pandangan baru dan menjadi pandangan yang dominan yaitu empirisme4,suatu pandangan yang menyatakan bahwa untuk memperoleh pengetahuan adalah melalui pengalaman dan observasi untuk memperoleh kenyataan yang objektif.Pengaruh pengetahuan alam dan fisiologi pada psikologi merupakan permulaan dari psikologi eksperimental.

Di antara tokoh–tokoh yang dipandang sebagai orang yang mengadakan eksperimen – eksperimen yang kemudian sangat berpengaruh penggunaan eksperimennya dalam psikologi,antara lain:

a.      Wilhelm Wundt ( 1832 – 1920 )

            Berawal dari Wundt,psikologi mempunyai corak baru.Wundt dipandang sebagai penyekat antara psikologi lama dengan psikologi modern.Wundt dilahirkan di Neckarau pada tanggal 18 agustus 1832 dan meninggal di Leipzig pada tanggal 31 Agustus 1920.

            Wundt sebenarnya bukan seorang ahli dalam bidang psikologi,melainkan seorang fisiolog,akan tetapi beliau mempunyai pandangan bahwa fisiologi dapat dipandang sebagai ilmu pembantu dari psikologi,dan psikologi merupakan ilmu yang berdiri sendiri dan merupakan ilmu yang eksperimental.Pada tahun 1879 Wundt mendirikan laboratorium psikologi di Leipzig sebagai pusat penelitian psikologi secara eksperimental.Eksperiment Wundt disadarkan atas eksperiment dalam fisiologi yang dapat membantu penelitian – penelitian psikologi modern.Pokok bahasan  (subjek matter)psikologi Wundt adalah kesadaran.Menurut Wundt kesadaran ini mencakup berbagai bagian dan dapat dipelajari dengan metode analisis atau metode reduksi.Wundt adalah seorang strukturalis,sehingga menitikberatkan bahwa struktur dari kesadaran itu aktif dalam mengorganisasi isinya ( dalam Schuf 2 dan Schultz 2,1992).

Sistematika psikologi dari wundt tidak sama dari masa ke masa, hal ini disebabkan perkembangan jalan pikiran Wundt dan perkembangan psikologi pada periode itu,yang mana terbagi menjadi 4 periode,yaitu :

1.      Tahun 1860 – an disebut periode Prasistematik,yang mengemukakan tori – teori tentang persepsi dan perbedaan antara perasaan dan pengindraan.

2.      Tahun 1874 – 1887,periode ini menjelaskan konsep – konsep Wundt(Physiologiscge psychiologi)

3.      Tahun 1896,Wundt mengajukan teori 3 dimensi.

4.      Tahun 1902 – 1903 , argumen Wundt mengenai teori baru tentang perasaan.

            Psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri,menurut Wundt ada 3 persoalan yang harus dibahas dalam psikologi,yaitu :

1.)    Analisis dari proses kesadaran ke dalam elemen – elemen.

2.)    Penyelidikan hubungan antara elemen – elemen.

3.)    Penentuan hukum yang mengatur hubungan itu.

            Prinsip dasar yang memungkinkan hubungan antara elemen – elemen kesadaran adalah asosiasi yang bersifat pasif dan asosiasi yang bersifat aktif atau yang bersifat apersepsi.Diantara jenis asosiasi adalah sebagai berikut :

1.)    Asosiasi persepsi langsung:

·         Fusi,yaitu percampuran antardua elemen kesadaran.

·         Asimilasi,yaitu elemen yang masih saling independent.

·         Komplikasi,yaitu asimilasi antara indra yang berbeda.

2.)    Asosiasi memori, yaitu asosiasi yang terjadi dalam ingatan antara elemen–elemen yang disimpan.mengenai apersepsi Wundt mengemukakan doktrin–doktrinnya sebagai berikut:

a.       Apersepsi sebagai Fenomena

1.      Lapangan kesadaran

2.      Pusat kesadaran

b.      Apersepsi sebagai kognisi:

1.Analisis

2.Sintesis

c.       Apersepsi sebagai aktivitas

 

b.       Hermann Von Helmholtz ( 1821 – 1894 )

            Helmholtz mempunyai minat dalam psikologi dan penelitiannya mengenai kecepatan stimilus pada penglihatan dan pendengaran.Helmholtz juga mengembangkan teori mengenai warna yang dikemukakan oleh Thomas Young.

 

 

c.       Edward Bradford Titchner (1867-1927)

            Keturunan dari keluarga miskin dan tradisional dengan tichtner dilahirkan di Sussex (sebelah selatan London) keturu nan dari keluarga miskin dan tradisional. Dengan beasswa ia dapat menyelesaikan studinya. Kepribadiannya ia ternasuk orang yang pandai dan pernah menyelesaikan studinya di Lepzig , namun tidak di terima di sana, akhirnya dia bekerja sebagai dosendi Comel University di Amerika serikat . dalam karyanya berjudul “Experinental Psychologi” tokoh ini menegaskan eksperimen Wundt namun tidak semuannya dia setuju dengan pemikiran Wundt. Ajaran yang tidak di setujuinya adalah tentang emosi.

 

d.      Hermam Ebbinghaus (1850-1909)        

            Ebbinghaus adalah psikolok yang pertama kali mengadakan eksperimen dalam masalah belajar dan ingatan.Materi yang di gunakan dalam bentuk eksperimennya adalah yang di kenal dengan Nonsense syllabless, yang di bentuk dengan dua konsonan dan satu viwel di tengah.Dari materi tersebut kemudian di susun kombinasi yang di berikan kepad subjek coba secara acak untuk di pelajari.ada beberapa metode yang di gunakana ebbinghous dalam eksperimennya, antaralain : “the learing time methode and the relearing methode”, yaitu memaparkan dengan ingatan.

 

e.       Oswald Kulpe (1862-1915)

            Setelah menamatkan pendidikannya di Leipzig, ia kemudian menjadi asisten Wundt, dan mengadakan eksperimen-eksperimen di labolabolatoriumnya.

Sebelumnya ia belejar sejarah tapi kerena pengaruh Wundt ia pindah ke filsafat, dan akhirnya pindah ke eksperimental psikologi. Ia menulis buku”An online of psychologi”.Menurut kulpe psychologi ilmu yang membahas fakta-fakta dari pengalaman yang bergantung pada pengalaman pribadi.

            Pada tahun 1894 yang menjadi guru besar di Universitas Wurzburg dan mendirikan laboratorium Wundt.Kulpe menerapkan metode yang disebut sebagai “ a systematic Experimental introspection “.Pada metode ini Kulpe menekankan pada aspek subjektif,kualitatif,dan report yang mendetail dari subjek mengenai proses berpikir.Tujuan Kulpe adalah ingin menyelidiki secara langsung apa yang terjadi selama berlangsung kesadaran.Disamping berpikir juga diteliti mengenai motivasi yang merupakan konstribusi yang cukup berarti dalam psikologi modern.Juga dikemukakan bahwa pengalaman tidak hanya bergantung pada elemen – elemen kesadaran,tetapi elemen tidak kesadaran juga berpengaruh pada perilaku,yang kemudian hal tersebut dikembangkan oleh Feud.

 

f.       Karl Buhler ( 1879 – 1963 )

            Tokoh ini menganut aliran Wurzburg,ia menentang Wundt dan tidak setuju dengan G.E.Muller.ia pun menentang elementisme dan sesualisme.pendekatan mengenai kejiwaan adalah holistis ( ganzhit ).Dari Buhler lah muncul aliran psikologi Ganzheit.Tokoh ini juga menyumbangkan bagi psikologi hasil penelitiannya ( spoken Languange ) dari sudut Psikologi.yang nantinya berkembang terus sebagai cabang psikologi yang disebut Psikolinguistik.

            Buhler dilahirkan di  Mechesheim ( Baden ),ia dilahirkan pada tanggal 27 Mei 1879 dan meninggal pada tanggal 24 oktober 1963 di California Amerika Serikat dan antara tahun 1907 – 1909 ia adalah salah satu peneliti yang penting di Wurzburg.Hidupnya suka berpindah – pindah sampai akhir pada tahun 1938 ia ditangkap oleh Nazi dan mengungsi ke Oslo yang kemudian pada tahu 1940 ia berhasil melarikan diri ke Amerika Serikat ( di Minesote ).sejak tahun 1945 ia menetap di Los Angeles Hingga akhir hidupnya.

C. Psikologi modern dalam abad ke 20

       Psikologi pada abad  ini disebut psikologi modern. Perkembangan psikologi ini mempunyai kemajuan yang sangat pesat. Dalam abad ini lahirlah aliran-aliran psikologi dengan hasil penelitian  masing-maing secara khusus. Aliran psikologi ini diantaranya:

1.      Psychoanalisa

Merupakan suatu  metode penelitian yang mempunyai tujuan untuk menghilangkan gangguan-gangguan yang terdapat pada susunan saraf. Lambat laun menjadi metode untuk menyelidiki proses-proses kesadaran jiwa dalam  lingkungan psikologi.

Tokoh-tokoh psikologi ini yang terkenal adalah:

a)      Dr. Breuer, seorang dokter ahli urat saraf di Australia pd th 1880

b)      Prof. Charcot dari Prancis

c)      Sigmun Freud dari Australia

2.      Individual Psikologi

a)      Alferd Adler

            Menyatakan bahwa pokok pengertian psikologi adalah pengertian tentang individualitas (kepribadian seseorang). Kepribadian adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi sumber watak dan tigkah laku manusia.

            Suatu prinsip yang penting dalam individual psikologi adalah:

·         Teologis ( tujuan ): kejiwaan yang hidup tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan berpusat pada satu  tujuan

·         Perencanaan  hidup: tiap manusia tentu mempunyai cita-cita yang menjadi penggerak segala perbuatan untuk mencapai tujuan.

·         Hasrat bermasyarakat: cenderung mengabdi kepada masyarakat.

·         Hasrat berkuasa : hasrat mengabdi kepada diri sendiri. Kecenderungan berkuasa terwujud pada perkembangan iri, sehingga menimbulkan pemujaan ego.

·         Kompensasi: kekurangan dalam suatu bidang diimbangi dengan suatu usaha dibidang lain. Kompensasi ini dilakukan karena ada perasaan kurang mampu dan adanya kelemahan baik jasmani maupun rohaniyah.

b)   Frist Kunkel

Adalah seorang dokter ahli dalam urat syaraf  di Berlin. Pada prinsipnya membedakan dua macam kekuatan pokok pada manusia, yaitu: nafsu mengabdi kepada masyarakat dan nafsu mengabdi kepada diri sendiri. Dengan adanya dua kekuatan itu dikemukakakn hukum yang berbunyi: makin besar nafsu mengabdi kepada diri sendiri nakin kecil nafsu mengabdi kepad masyarakat dan sebaliknya 

 

3.      Neo Freudian

Aliran ini muncul disebabkan karena adanya rasa tak puas atas aliran-aliran psikologi yang ada terutama psikologi analisa dari freud. Baik Freud maupun Neo Freudian keduanya menggunakan metode Psychoanalisis.

Perbedaan-perbedaan yang menonjol antara kedua aliran  itu adalah:

Freudian

Neo Freudian

a.                   Tinjauannya bersifat biologis, cenderung kepada biologi.

b.                  Mendasarkan kepada nafsu istinc.

c.                   Perkembangan perasaan di entukan oleh perkembangan, pertumbuhan dan kematangan social.

a.                   Tinjauannya bersifat sosiologis, cenderung kepada sosiologi.

b.                  Mendasarkan kepada motif-motif hidup dan situasi hidup sebagai manusia.

c.                   Perkembangan perasaan oleh pengaruh lingkungan keluarga, sekolah dan kebudayaan yang berbeda-beda sesuai waktu dan empat.

Mulai permulaan abad ke-20 psikologi mempunyai lebih banyak aliran dengan spesialisasi di bidang penelitian masing-masing serta penerapannya. Beberapa contoh aliran-aliran yang berkembang pada fase ini adalah:

Psikologi dalam, yang terbagi atas beberapa aliran:

1.      Psiko-analisa, yaitu aliran yang berusaha menyelidiki tentang kejiwaan yang berada di bawah sadar manusia

2.      Psikologi perorangan, yaitu psikologi yang berusaha menyelidiki hidup kejiwaan manusia dari segi pribadi perorangan, menurut sumber pokok hidup kejiwaannya.

3.      Psikologi analitis, yaitu aliran psikologi yang bertujuan mempelajari kehidupan jiwa manusia dari segi lapisan jiwa sadar dfan tidak sadar.

4.      Neo-Freudianisme, yaitu suatu aliran psikologi yang bersumber dari pendapat-pendapat Freud, akan tetapi kemudian berkembang menjadi pandangan-pandangan baru. Manusia dianggap sebagai sebagai suatu mahluk yang bereaksi secara total kejiwaannya, bukan secara unsur demi unsur.

           

            Selain aliran-aliran tersebut diatas . Beberapa ilmuan biologi dan fisika mempunyai minat untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu jiwa menurut prosedur ilmiyah modern. Bukti dari mempelajari ilmu jiwa maka muncul beberapa aliran yaitu Strukturalisme sebagai pemula yang mengangkat psikologi sebagai disiplin ilmu yang otonom, dengan didirikan laboratorium psikologi yang pertama dengan menggunakan prosedur penelitian. Dan terjadi pro dan kontra karena banyak pendapat yang munculan membentuk aliran-aliran psikologi lainya seperti:

ü  Fungsionalisme

ü  Behaviorisme

ü  Gestaltpsychology

ü   Psychoanalyticpsychology

ü  Humanisticpsychology

            Keenam aliran tersebut yang memperkaya dan memperlengkap ilmu pengetahuan psikologi modern. Berikut ini akan diuraikan secara berturut-turut untuk mengetahui bagaimana konsep-konsep pandangannya.

a.Strukturalisme
            Psikologi muncul dan berkembang mulai tahun 1879 yaitu setelah didirikan laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig oleh Wilhem Wundt yang dikenal sebagai bapak pendiri psikologi. Dalam laboratorium ini Wundt mempelajari dan meneliti jiwa lebih langsung dari filosof-filosof dan meniru kemajuan yang telah dicapai dalam ilmu pengetahuan lainnya. Dengan menggunakan metode introspeksi secara eksperimental mencoba melakukan penelitian yang dilakukan secara analisa elementer untuk menentukan pengalaman kesadaran dengan menganalisa ke dalam unsur-unsurnya. Terbentuknya aliran ini didasari pada pendapat bahwa psikologi sudah seharusnya mempelajari jiwa dari segi unsur-unsurnya dimana jiwa tersebut tersusun. Helmhotz yang telah melatih Wundt dalam penelitian psikologi secara eksperimen dari Inggris.
            Selain Wundt tokoh strukturalisme adalah Titchener, yang telah membawa paham strukturalisme Wundt dan menyebarkan paham tersebut di Amerika Serikat. Paham dan pandangan psikologi Wundt jug dikembangkan oleh murid-muridnya seperti Mc. Keen Cattel, Hugo Munsterberg dan psikiater Kraeplin seperti yang telah diuraikan dalam sejarah.

b. Fungsionalisme

            Seorang tokoh psikologi Amerika dan pelopor aliran fungsionalisme yaitu Wiliam James (1842-1910), telah beranggapan bahwa pendapat Wundt dan pendapatnya telah keliru dan sesat apabila mengambil sasaran penelitian / percobaan psikologinya untuk menemukan struktur dari pada pengalaman kesadaran manusia. James berpendapat pengalaman kesadaran itu hakekatnya adalah suatu peristiwa atau proses bukan diuraikan unsur-unsurnya. Aliran ini juga merumuskan jiwa adalah pemelihara kelangsungan hidup sesorang dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya. Aliran fungsionalisme memandangnya secara dinamis yaitu sebagai proses mental yang terjadi dalam suatu aktivitas psikologi tujuan dan fungsi. Tokoh-tokoh yaitu John Dewey (1859-1952), James Mc Kenn Cattel (1866-1944), E.L. Trondike (1874-1949), dan R.S.Woodworth (1969-1962).

c. Behaviorisme
            Perkembangan aliran behaviorisme termasuk gerakan/alairan psikologi yang kuat dan berpengaruh. Tokoh pendirinya adalah John B. Waston (1878-1958). Aliran ini menghimbau agar psikologi tidak memusatkan perhatiannya untuk mempelajari gejala-gejala kesadaran atau dibawah sadar, tetapi sesuai dengan tugasnya psikologi harus berupaya meramalkan apa yang sebenarnya yang mennjadi sasaran / tujuan tingkah laku dan berusaha bagaimana agar orang dapat mengendalikan tingkah laku tersebut, tepatnya ilmu pasti. Tokoh psikologi B. F. Skinner menyatakan “lingkungan merupakan kunci penyebab terjadinya tingkah laku.” Untuk dapat memahami tingkah laku manusia kita harus perhatikan lingkungan individu terhadap individu sebelum dan sesudah ia memberikan respon.

d. Gestalt Psychology
            Aliran ini merupakan suatu protes terhadap pandangan strukturalisme. Pemikiran tentang gestalt ini ditemukan oleh MaX Werthiemer (1880-1943) seorang psikolog Jerman. Gestalt berarti bentuk, pola keseluruhan, dasarnya adalah unit (kesatuan) sedangkan alatnya yang dijadikan dasar adalah persepsi (pengamatan/ penalaran). Para psikologi ini kebanyakan perhatian/studinya ditujukan kepada prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan proses pengamatan. Pemuka yang lain adalah Kurt Koffka (1886-1941), Wolfgang Kohler (1886-1967).

e. Psychanalytic psychology 
            Aliran ini muncul pada tahun 1900 dan aliran ini muncul pandangan psikologi yang dikembangkan melalui dasar-dasar tinjauan klinis-psikiatris oleh aliran psikoanalisa yang dipelopori oleh Sigmund Freud seorang Psikiater Australia. Pengobatan dilakukan melalui kejadian-kejadian yang dialami pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, disinilah teori kepribadian dan suatu pendekatan psikoterapi dikarenakan mental manusia itu berbeda.

f. Humanistic Psychology
            Aliran humanisme sebagai bantahan dan kurangnya aliran behaviorisme dan psikoanalisa. Aliran humanisme ini pada dasarnya mengakui bahwa pengalaman dan masa lalu itu mempengaruhi kepribadian, tetapi harus diakui pentingnya kedudukan “free will” yaitu dasar kemauan bebas manusia untuk membuat keputusan bagi dirinya untuk menentukan dirinya sendiri. Aliran ini tidak menggunakan eksperimen dilaboratorium seperti penelitian dengan mengawasi tingkah laku dan perkembangan pada binatang akan tetapi humanisme lebih menekankan pentingnya peran factor suyektif seperti : gambaran dari seseorang, penilaian diri dan kerangka sasaran atau cita-cita ideal.
            Ke enam aliran yang telah diuraikan diatas menjadi konsep yang selalu digunakan para psikologi sampai saat ini untuk meneliti/mengamati jiwa manusia. Para psikologi saat ini tidak menganut aliran karena mereka mengembangkan dan mengguanakan teori psikologi yang lebih objektif dari aliran tersebut, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan satu sama lian. 
            Ciri khas dari psikologi modern yang antara lain nampak sebagai berikut:

a.       Bersifat totalitas

b.      Bersifat teologis

c.       Vitalistis biologis ( jiwa dipandang aktif dan bergerak dalam hidup manusia)

d.      Melakukan pendalaman dan penyelaman terhadap jiwa (verstehend)

e.       Berdasarkan nilai-nilai

f.       Gejala-gejala jiwa dihubungkan dengan subyeknya

g.      Memandang jiwa aktif dinamis

h.      Mementingkan fungsi jiwa

i.        Mementingkan mutu/kualitas

j.        Lebih mementingkan perasaan.

 


Komentar

Postingan Populer