Mengenal Teori Operant Conditioning dalam Psikologi

 


A. Latar Belakang Operant Conditioning 

Dasar dari pengkondisian operan (operant conditioning) dikemukakan oleh E.L.Thorndike pada tahun 1911, yakni beberapa waktu sesudah munculnya teori classical conditioning yang dikemukakan oleh Pavlov. Pada saat itu thorndike mempelajari pemecahan masalah pada kucing yang diletakkan di dalam sebuah “kotak teka-teki”. Dimana setelah beberapa kali percobaan, kucing itu mampu meloloskan diri semakin cepat dari perobaan-percobaan sebelumnya. Thorndike kemudian mengemukakan hipotesis: apabila suatu respon berakibat menyenangkan, ada kemungkinan respon yang lain cenderung berakibat sama. Hipotesis ini dikenal dengan hukum akibat (Law of Effect)

Meskipun Thorndike yang menjadi pelopor dalam pengkajian rasa puas mendorong pembelajaran, Skinner lah yang menyelidiki kerja terperinci “Law of Effect” (Sylva dan Lunt,1986). B.F. Skinner dianggap sebagai bapak conditioning operan. Dari teori yang dikemukakan Thorndike, skinner telah mengemukakan pendapatnya sendiri dengan memasukkan unsur penguatan kedalam hukum akibat tersebut, yakni perilaku yang dapat menguatkan cenderung di ulangi kemunculanya, sedangkan perilaku yang tidak dapat menguatkan cenderung untuk menghilang atau terhapus.

Jadi Inti dari teori Skinner Pengkondisian operan (operant conditioning) adalah proses belajar dengan mengendalikan semua atau sembarang respon yang muncul sesuai konsekuensi yang mana organisme akan cenderung untuk mengulang respon-respon yang diikuti oleh Penguatan (reinforcement) atau Hukuman (Punishment).

B. Karakteristik Operant Conditioning

Skinner membedakan perilaku atas :

a.       Respondent behavior ( perilaku responden) yakni perilaku yang ditimbulkan oleh suatu stimulus yang jelas, contohnya adalah semua gerak refleks.

b.      Operant behavior ( perilaku operan) yakni perilaku ditimbulkan oleh stimulus yang tidak diketahui,tetapi ditimbulkan oleh organisme itu sendiri. Perilaku operan belum tentu didahului oleh stimulus dari luar. Kebanyakan dari aktivitas manusia adalah perilaku operan.

Dengan dibaginya dua macam perilaku tersebut, maka ada dua jenis pengkondisian, yaitu:

a.       Respondent conditioning ( pengkondisian responden) atau biasa disebut dengan pengkondisian tipe S. pengkondisian ini menekankan arti penting stimulus dalam menimbulkan respon yang diiginkan. Dalam pengkondisian tipe S ini, identik dengan pengkondisian klasik Pavlov,

b.      Operant conditioning ( pengkondisian operan) atau biasa disebut dengan pengkondisian tipe R. dalam pengkondisian ini, penguatan pengkondisinya ditunjukkan dengan tingkat respon. Dan pengkondisian tipe R itu identik dengan pengkondisian instrumental thorndike. Sedangkan riset skinner hampir semuanya berkaitan dengan pengkondisian tipe R.

C. Konsep Utama Operant Conditioning

Menurut skinner, pengkondisian operan terdiri dari dua konsep utama, yaitu:

1)      Penguatan (reinforcement)

Penguatan adalah proses belajar untuk meningkatkan kemungkinan dari sebuah perilaku dengan memberikan atau menghilangkan rangsangan. Prinsip penguatan dibagi menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif.

a.       Positive Reinforcement (Penguatan Positif)

Penguatan positif (positive reinforcement) adalah suatu rangsangan yang diberikan untuk memperkuat kemungkinan munculnya suatu perilaku yang baik sehingga respons menjadi meningkat  karena diikuti dengan stimulus yang mendukung.

b.      Negative Reinforcement (Penguatan Negatif)

Negative Reinforcement adalah peningkatan frekwensi suatu perilaku positif karena hilangnya rangsangan yang  merugikan (tidak menyenangkan). Sebagai contoh, . Perbedaan mutlak penguatan negatif dengan penguatan positif terletak pada penghilangan dan penambahan stimulus yang sama-sama bertujuan untuk meningkatkan suatu perilaku yang baik.

        Penguatan Positif + Stimulus => Perilaku baik

        Penguatan Negatif – Stimulus => Perilaku baik

2)      Hukuman (Punishment)

Penguatan negatif (negative reinforcement) tidaklah sama dengan hukuman, keduanya sangat berbeda. Penguatan negatif lebih bertujuan untuk meningkatkan probabilitas dari sebuah perilaku, sedangkan hukuman lebih bertujuan untuk menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Dalam penguatan negatif respon akan meningkat karena konsekuensinya, sedangkan pada hukuman respon akan menurun karena konsekuensinya.

Hukuman (punishment) adalah sebuah konsekuensi untuk mengurangi atau menghilangkan kemungkian sebuah perilaku akan muncul. Dalam hukuman juga terdapat pembagian antara positif dan negatif.

a.       Hukuman positif (positive punishment) dimana sebuah perilaku berkurang ketika diikuti dengan rangsangan yang tidak menyenangkan dan membuat tingkahlaku yang tidak diinginkan tidak muncul kembali dimasa yang akan datang.

b.      Hukuman negatif (negative punishment), sebuah perilaku akan berkurang ketika sebuah rangsangan positif atau menyenagkan diambil. 

D. Stimulus Operant Conditioning

1)      Generalisasi Stimulus

            Menurut prinsip-prinsip pengondisian operan, respons apa pu yang secara konsisten diperkuat disituasi tertentu akan diulangi ketika situasi itu muncul. Namun, ada juga kecenderungan untuk merespons situasi yang sama dengan cara yang mirip. Kecendrungan untuk memancarkan sebuah respons operan ini, di dalam situasi serupa dengan respons yang awalnya sudah diperkuat disebut generelasi stimulus. Generalisasi stimulus (stimulus generalization) adalah proses timbulnya respon dari stimulus yang mirip dengan stimulus yang mestinya menimbulkan respon tersebut. Generelasi stimulus inilah yang menjelaskan kenapa kita memancarkan respon-respon yang dipelajari di situasi-situasi yang berbeda dari situasi awal pembelajaran itu terjadi. Salah satu contohnya adalah seseoranf diber haduah dengan tertawa atas ceritanya yang lucu di suatu bar akan mengulang cerita yang sama di restoran, pesta, atau resepsi pernikahan.

2)      Diskriminasi Stimulus

            Diskriminasi stimulus (stimulus discrimination) adalah kemampuan untuk membedakan stimulus, sehingga stimulus tersebut tidak direspon walaupun mirip dengan stimulus yang diberi penguat. Dalam pengkondisian operan, diskriminasi stimulus dilakukan dengan pemberian reinforcement terhadap respon yang diinginkan dalam suatu situasi atau stimulus yang sesuai dan tidak memberikan reinforcement bila respon tersebut muncul dalamsituasi yang tidak sesuai. Contohnya pada percobaan burung merpati dengan memberi makan tetapi sebelumnya diisyaratkan dengan lampu terlebih dahulu dimana makanan sebagai reinforcer hanya diberikan bila yang menyala lampu hijau. Sedangkan bila yang menyala lampu merah, reinforcer tidak diberikan. Pemasangan lampu merah dan hijau ini dilakukan secara berturut-turut, hijau-merah-hijau-merah, dan seterusnya, atau makanan-tidakada-makanan-tidak ada, dan seterusnya. Oleh karena itu teknik ini disebut dengan prosesdikriminasi "go-no-go". Generalisasi dan diskriminasi sangat penting sebagai sarana belajar dalam menghadapi berbagai situasi baik situasi yang sama maupun situasi yang berbeda.

3)      Extinction ( pemunahan)

            Jika perilaku operan yang diikuti sebuah penguat membuatnya diperkuat, maka jika penguatnya dihilangkan, perilaku operan akan melemah. Inilah yang persisnya terjadi di dalam apa yang disebut Skinner pemunahan. Jika contohnya setelah respons menekan tuas dikondisikan, lalu mekanisme pemberian makanan diputus, ini akan menciptakan situasi baru bagi tikus di mana respons penekanan tuas tidak akan lagi diikuti oleh keluarnya pelet makanan, sehingga respons akhirnya kembali ke tingkat operan yang semula, yaitu suatu kegiatan yang acak dilakukan tikus. Dengan kata lain, ketika sebuah penguat tidak lagi mengikuti suatu respons, sering kali frekuensi respons kembali ke tingkat sebelum penguat diberikan, kita katakan bahwa pemunahan terjadi.

            Pemunahan bisa dilihat sebagai lawan akuisisi, dan dua proses ini, menurut Skinner, menjelaskan banyak hal yang kita sebut kepribadian. Ringkasnya, perilaku yang mendapat penghargaan akan terus ada, dan perilaku yang tidak mendapat penghargaan akan lenyap. Contohnya, bayi mengeluarkan suara yang menyerupai banyak bahasa di seluruh dunia saat ia berceloteh. Dari celotehan yang acak inilah bahasa bayi kemudian dibentuk. Bunyi yang mirip bahasa orangtua akan diperhatikan dan diperkuat, sedangkan ucapan yang tidak relevan dengan bahasa orangtua akan diabaikan. Respons verbal yang diperkuat akan menjadi semakin kuat, untuk kemudian di jauh hingga sempurna, sedangkan respons verbal yang tidak diperkuat akan melemah untuk kemudian lenyap. Jadi lewat cara inilah perilaku yang kita sebut kepribadian itu dibentuk.

            Pemunahan penting bagi modifikasi perilaku Skinnerian. Prinsipnya ini sederhana sekali: Perkuat perilaku yang dinginkan dan jangan perkuat perilaku yang tidak dinginkan. Bagi Skinner, pemunahan adalah cara terbaik menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan, bukan penghukuman. la memberi contoh berikut:

Proses alternatif paling efektif [dibandingkan penghukuman] adalah pemunahan. Memang agak memakan waktu namun jauh lebih cepat dan tidak menimbulkan efek samping negatif ketimbang memaksakan subjek untuk melupakan perilaku yang tak diinginkan. Kami merekomendasikannya, contohnya, saat kami menyarankan orangtua ‘tidak memberi perhatian’ terhadap perilaku anaknya yang tidak dinginkan. Bahkan, meskipun perilaku anak cukup kuat, namun jika sudah dilemahkan dengan ‘mencabutnya’ dari perhatian dan persetujuan orangtua, lama-lama perilaku tersebut hilang sendiri karena sudah tidak lagi punya konsekuensi.

E. Aplikasi Teori Operant Conditioning

Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

a.       Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.

b.      Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.

c.       Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

d.      Materi pelajaran digunakan sistem modul.

e.       Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.

f.        Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.

g.      Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.

h.      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.

i.        Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.

j.        Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu).

k.      Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.

l.        Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.

m.    Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.

n.      Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.

o.      Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks. 

 

Aplikasi Teori Operant Conditioning Dalam Praktek Pendidikan

Belajar dan mengajar merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Belajar adalah mengingat, mengerti, memahami, menerangkan, menganalisa, mensintesis, mengevaluasi, berpikir, percaya, berpartisipasi, melaksanakan dan seterusnya. Belajar adalah perubahan dari setiap tingkah laku yang merupakan pendewasaan atau pematangan oleh satu kondisi dari organisme (subjek). Dan mengajar tidaklah mentransfer sumber pengetahuan saja tetapi juga mengubah sikap dan tingkah laku yang nyata. (Anwar, tt : 95, 96,98).

            Skinner mengakui bahwa aplikasi teori operant conditioning ini terbatas, tetapi ia merasa bahwa ada implikasi praktis bagi pendidikan. Ia mengemukakan bahwa kontrol yang positif (menyenangkan) mengandung sikap yang menguntungkan terhadap pendidikan dan akan lebih efektif bila digunakan. Menurut Skinner, belajar memberikan kekuatan untuk terjadinya respons-respons yang bertingkat dan berkelanjutan, apabila prosedurpenguatan (reinforcement) diatur sedemikian rupa. Oleh karena itu dalam proses belajar perlu ditetapkan tingkah prilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, apabila ia tidak belajar maka responsnya akan menurun. Dalam belajar dapat di temukan beberapa hal : Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pembelajar, respons si pembelajar, dan konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut (Dimyati dan Mudjiono, 1999 : 9). Penguatan terjadi pada stimulus  yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pembelajar yang baik diberi hadiah tetapi sebaliknya, perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman. Fungsi utama pendidikan adalah mencipatakan kondisi agar tingkah laku  yang baik dapat di terapkan, sedangkan peranan utama dari seorang pendidik (guru) adalah menciptakan kondisi agar tingkah laku yang diinginkan dapat terwujud dan proses belajar berlangsung secara dinamis dan kondusif. Untuk itu dalam prose pendidikan dibutuhkan guru yang profesional dan memiliki  wawasan yang luas. Menurut Zakiah Daradjat (1982 : 22-23), guru yang profesional minimal harus memiliki enam hal yaitu :

1.      kegairahan dan kesediaan untuk mengajar

2.      dapat membangkitkan minat murid.

3.      menumbuhkan sikap dan bakat yang baik.

4.      mengatur proses belajar mengajar.

5.      berpindahnya pengaruh belajar dan pelaksanaannya ke dalam kehidupan yang nyata.

6.      Dan hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.

Pada diri setiap manusia ada keinginan yang mulia yang dibuatnya sendiri dari lubuk hati yang paling dalam dan telah tertanam sedemikian rupa  yang berasal dari hubungannya dengan obyek-obyek kehidupan sekitarnya, sementara mengajar berarti memberikan stimulus dan menguatkannya. Dalam proses pembelajaran guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner ini. Dalam menerapkan teori Skinner guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu : pemilihan stimulus yang deskriminatif dan penggunaan penguatan. Sebagai ilistrasi apakah guru akan meminta respons ranah kognitif atau efektif. Jika yang akan dicapaiadalah sekedar menyebutkan ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta, tentu saja siswa hanya dilatih menghafal. Langkah-langkah pembelajaran yang dapat ditempuh berdasarkan teori operant comditioning adalah sebagai berikut :

1.      Mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif atau negatif. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi.

2.      Membuat daftar penguat dan positif. Guru mencari prilaku yang lebih disukai oleh siswa, prilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.

3.      Memilih dan menentukan urutan tingkahh laku yang dipelajari serta  jenis penguatnya.

4.      Membuat program pembelajaran.

Program pembelajaran ini berisi urutan prilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari prilaku, dan evaluasi. Dalam melaksanakan program pembelajaran, guru mencatat prilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidak berhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi prilaku selanjutnya (Gredler, 1991 : 154-156). Sebagai ilustrasi ketertiban kelas, pada saat berlangsung proses belajar mengajar, seorang siswa berulang-ulang mengganggu teman di depannya. Guru yang melihat kelakuan tersebut segera mengamati dan menentukan apa  yang akan di lakukannya, memberikan perhatian atau meengacuhkannya sebab kedua pilihan ini dapat menjadi dapat menjadi reinforcement bagi yang bersangkutan.

F. Kelebihan dan Kekurangan Teori Operant Conditioning

Kelebihan teori operant conditioning adalah sebagai berikut :

a.                   Operant conditioning memiliki manfaat dalam bidang pendidikan.

b.                  Ketika seseorang diberi penghargaan karena perilakunya, biasanya akan terjadi kembali.

c.                   Teori operant conditioning sangat membantu ketika membesarkan dan mengajarkan anak.

d.                  Seorang anak yang telah dihukum setelah perilakunya cenderung tidak akan meniru perilaku itu lagi.

e.                   Teori operant conditioning adalah cara yang sangat membantu untuk mengendalikan perilaku siswa

Kekurangan teori operant conditioning

a.                   Teori operant conditioning tidak dapat diterapkan pada semua orang.

b.                  Terkadang, suatu perilaku tidak benar-benar berhenti

c.                   Ketika seseorang dihukum, maka ia cenderung akan mengulangi perbuatannya.

d.                  Orang bisa saja berpura-pura mereka telah menghentikan perilakunya hanya untuk meraih ganjaran.

e.                   Operant conditioning tidak mempertimbangkan aspek kognitif.

Daftar Pustaka

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. (Edisi Revisi. Cetakan ke-6). Bandung: CV Pustaka Setia

Olson, Matthew. H., Hargenhahn, B. R. 2013. Pengantar Teori Kepribadian.Yudi Santoro S.Fil,Penerjemah.Pustaka Pelajar.Terjemahan dari: An Introduction to Theories of Personality Pearson Education Inc.,1 Lake St.Upper Suddle River 2011.

 

 

 

Komentar

Postingan Populer