Mengenal Terapi Psikoanalisis dalam Psikoterapi
Pengertian Terapi Psikoloanalisis
Psikoterapi psikoanalisa adalah metode psikoterapi yang didasarkan pada rumusan psikoanalisis yang telah dimodifikasi secara konsepsual dan teknik dengan memusatkan perhatian pada konflik pasien sekarang dan pola dinamika sekarang. Dikembangkan dari konsep psikoanalisa Freud bahwa gangguan mental berakar dari konflik dan ketakutan bawah sadar, penekanan pada peran ego yang rasional. Metode ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1890-an oleh Sigmund Freud, seorang ahli neurologi yang berhasil menemukan cara-cara pengobatan yang efektifbagi pasien-pasien yang mengalami gangguan gejala neurotik dan histeria melalui teknik pengobatan eksperimental yang disebut abreaction, sebuah kombinasi antara teknik hipnotis dengan katarsis, yang dia pelajari dari senior sekaligus sahabatnya, Dr. Josef Breuer. Metode ini sendiri merupakan upaya perawatan terhadap perilaku abnormal atau gangguan dengan cara mengidentifikasikan penyebabpenyebab ‘tak sadar’ dari perilaku atau gangguan yang terjadi (diderita klien). Hal ini sangat berkaitan dengan konsep struktur pikiran yang diungkapkan oleh Freud. Freud mengungkapkan bahwa penyebab ‘tak sadar’ itu merupakan konflik yang disebabkan adanya kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam diri tiap individu dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian individu sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan.
Tujuan Terapi Psikoanalisis
1. Membentuk kembali struktur karakter individu dengan cara membuat keadaran yang tidak disadari di dalam diri klien.
2. Fokus pada upaya penanganan pada pengalaman masa kanak-kanak.
Ketika penanganan terapi psikoanalisa berhasil, maka individu diharapkan bisa menggunakan energi psikis untuk melakukan fungsi-fungsi ego dan mereka berhasil mengembangkan ego yang mencakup pengalaman yang dulunya direpresi. Klien dapat menyalurkan energi-energi ke arah yang lebih sehat dan membantu aktivitas hidup lebih produktif.
Konsep-Konsep Terapi Psikoanalisis
1. Struktur Kepribadian.
Salah satu sumbangan dari teori psikoanalsiis Sigmund Freud adalah struktur kepribadian yang terdiri dari tiga sistem yaitu id, ego dan super ego. Menurut Corey (2009) id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego merupakan komponen sosial, yang akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut :
c) Super Ego: cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego mempresentasikan hal yang ideal alih-alih hal yang riel, dan mendorong bukan kepada kesenangan, melaikan kesempurnaan. Superego mempresentasikan nilai-nilai tradisional dan ideal-ideal masyarakat yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya.
2. Kesadaran dan Ketidaksadaran
Sumbangan terbesar Freud adalah konsepnya tentang kesadaran dan ketaksadaran yang merupakan kunci untuk memahami tingkah laku dan masalah-masalah kepribadian. Ketidaksadaran tidak bisa dipelajari secara langsung, ia bisa dipelajari dari tingkah laku. Pembuktian klinis guna membuktikan konsep ketaksadaran mencakup sebagai berikut:
3. Kecemasan.
Kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang memotivasi kita berbuat sesuatu. Fungsinya adalah memperingatkan adanya ancaman bahaya, yakni sinyal bagi ego yang akan terus meningkat jika tindakantindakan layak untuk mengatasi ancaman bahaya itu tidak diambil. Ada tiga macam kecemsasn yaitu kecemasan realaistis, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral. Kecemasan realistik adalah kekuatan terhdapa bahaya dari dunia eksternal, dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada. Kecemasan neurotik adalah ketakutan terhadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan yang bisa mendatangkan hukuman bagi dirinya. Kecemasan moral adalah ketakutan terhdapa hati nurani sendiri. Orang hati nuraninya berkembang baik cenderung berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya (Corey, 2009).
4. Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme-mekanisme pertahanan ego membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya ego. Mekanismemekanisme pertahanan ego itu tidak selalu patologis dan bisa memiliki nilai penyesuaian jika tidak menjadi suatu gaya hidup untuk menghindari kenyataan. Mekanisme-mekanisme pertahanan yang digunakan oleh individu tergantung pada taraf perkembangan dan derajat kecemasan yang dialaminya. Mekanisme-mekanisme pertahanan samasama memiliki dua ciri yaitu menyangkal atau mendistorsi kenyataan dan beroperasi pada taraf tak sadar. Teori Freud adalah pengurangan ketegangan atau sistem homeostatis (Corey, 2009):
c) Fikasi, fiksasi adalah menjadi “terpaku” pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena mengambil langkah ke tahap selanjutnya bisa menimbulkan kecemasan
d) Regresi, regresi adalah melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang tuntutn-tuntutannya tidak terlalu besar.
e) Rasionalisasi, rasionalisasi adalah menciptakan alasan-alasan yang “baik” guna menghindarkan ego dari cedera; memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan.
f) Sublimasi, sublimasi adalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih dapat diterima bagi dorongandorongannya.
g) Displacement, displacement adalah mengarahkan energi kepada objek atau orang lain apabila objek asal atau orang yang sesungguhnya, tidak bisa dijangkau.
h) Represi, represi adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan kecemasan, mendorong kenyataan yang tidak bisa diterima kepada ketaksdaran atau menjadi tidak menyadari halhal yang menyakitkan.
i) Formasi Reaksi, formasi reaksi alah melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar, jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka seseorang menampilkan tingkah laku yang berlawanan guna menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman itu.
5. Pandangan Tentang Sifat Manusia. Pandangan Freud tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic, mekanstik, dan reduksionistik. Menurut Freud, manusia diterministik oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa-peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan.
6. Perkembangan Kepribadian
Menurut psikoanalitik Freudian ketiga area perkembangan personal dan sosial (cinta dan rasa percaya, penanganan perasaan-perasaan negative, dan pegembangan penerimaan yang positif terhadap seksualitas) itu berlandaskan lima tahun pertama dari kehidupan. Periode perkembangan ini merupakan landasan bagi perkembangan kepribadian selanjutnya.
a) Tahun Pertama Kehidupan: Fase Oral Dari lahir sampai akhir usia satu tahun seorang bayi menjalani fase oral. Mengisap buah dada ibu memuaskan kebutuhannya akan makanan dan akan kesenangan. Karena mulut dan bibir merupakan zone-zone erogen yang peka selama fase oral ini, bayi mengalami kenikmatan erotik dari tindakan mengisap.
b) Usia Satu Sampai Tiga Tahun: Fase Anal Apabila fase oral menuntut individu untuk mengalami rasa bergantung yang sehat, menaruh kepercayaan pada dunia, dan menerima cinta, fase anal menandai langkah dalam perkembangan kepribadian. Tugastugas yang diselesaikan selama fase ini adalah belajar mandiri, memiliki kekuatan pribadi dan otonomi, serta belajar bagaimana mengakui dan menangani perasaan-perasaan yang negative.
c) Usia tiga sampai lima tahun: Fase Falik Kita telah melihat bahwa di antara usia satu dan tiga tahun seorang anak menyingkirkan cara-cara yang infantile, dan secara aktif maju mendaki dunia yang lain. Ini adalah fase ketika kesanggupankesanggupan untuk berjalan, berbicara, berpikir, dan mengendalikan otot-otot berkembang pesat. Selama fase falik ini, aktivitas seksual menjadi lebih intens dan perhatian dipusatkan pada alat-alat kelamin. Selama fase falik anak perlu belajar menerima perasaan-perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar memandang tubuhnya sendiri secara sehat. Mereka membutuhkan model-model yang memadai bagi identifikasi peran seksual. Pada fase falik ini anak membentuk sikap-sikap mengenai kesenangan fisik, mengenai apa yang “benar” dan yang “salah” serta mengenai apa yang “maskulin” dan yang “feminim. Mereka memperoleh perspektif tentang cara wanita dan pria berhubungan satu sama lain. Mereka menerapkan bagaimana merasakan diri dalam peran-peran mereka sebagai anak laki-laki atau sebagai anak perempuan.
Karakteristik Terapi Psikoanalisis
1. Dilaksanakan dalam suasana santai, karakteristik pertama dari terapi ini ialah suasana santai. Freud membangun suasana santai tersebut dengan penataan ruang seperti pemilihan warna dinding, pencahayaan, dan lainlain sehingga klien merasa nyaman dan betah saat menjalankan terapi. Dengan suasana santai, Freud berharap konflik-konflik yang berada pada alam tidak sadar akan muncul ke alam sadar.
2. Klien diberi kebebasan, dalam terapi Freud klien diperbolehkan untuk berbicara apa saja atau memberi respon apa saja, seperti menangis, menjerit, bahkan mengumpat sekalipun.
3. Waktu pelaksanaan, pertemuan pada terapi psikoanalisis biasanya dilakukan 4 sampai 5 kali dalam seminggu dengan durasi 1 sampai 2 jam disetiap pertemuan, selama kurang lebih waktu terapi dalam jangka 2 hingga 3 tahun.
Teknik Terapi Psikoanalisis
Dalam perjalanan praktik terapinya, Freud mengembangkan beberapa teknik terapi. Metode terapi tersebut sangat bermanfaat dalam proses terapi psikoanalisis. Berikut adalah beberapa teknik dalam terapi Psikoanalisa:
1. Teknik asosiasi bebas
Asosiasi bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Pada teknik ini terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan sehari-hari, serta dapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran (Wahidah, 2017). Metode asosiasi bebas untuk menggali informasi klien sampai ke alam tidak sadar dengan cara mulai dari ide yang disadari saat ini, menelusurinya melalui serangkaian asosiasi, dan mengikuti kemana ide ini pergi. Dalam teknik asosiasi bebas, ada transferensi. Transferensi merupakan pengungkapan isi ketidaksadaran yang tersimpan sejak masa kanak-kanak dengan memakai terapis sebagai medianya. Transferens atau transference mengacu pada perasaan seksual (libido) atau agresif yang kuat, baik positif maupun negatif. Transferens positif memungkinkan klien menghidupkan/ menghadirkan kembali pengalaman masa kecil mereka dalam sesi terapi psikoanalisa yang tak mengancam. Sedangkan, transferens negatif muncul dalam bentuk kebencian dan perasaan negatif klien yang perlu dikenali oleh terapis. Dalam transferens negatif, klien perlu dijelaskan agar mereka bisa mengatasi resistensi (perlawanan) terhadap penanganan. Resistensi merupakan segala respons tidak sadar yang digunakan oleh klien untuk menghambat kemajuan mereka sendiri selama terapi. Upaya mengendalikan resistensi bisa menjadi sinyal positif karena ini berarti terapi mulai meninggalkan ranah yang superfisial.
2. Penafsiran
Penafsiran merupakan prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi, dan transferensi. Penafsiran dilakukan melalui tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan, dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri (Wahidah, 2017). Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut.
3. Analisis mimpi
Analisis merupakan prosedur atau cara yang penting untuk mengungkapkan alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan (Wahidah, 2017). Metode ini untuk menafsirkan mimpi berdasarkan simbol-simbol yang keluar dari mimpi klien. Simbol dalam mimpi tidak bisa diterjemahkan langsung tetapi perlu dilihat manifest content dan latent contentnya. Psikolog perlu menyadari manifest content pada mimpi klien menjadi latent content yang lebih penting. Manifest content dari mimpi merupakan makna mimpi pada permukaan atau deskripsi sadar yang disampaikan oleh orang yang bermimpi. Sedangkan, latent content merupakan hal-hal yang tak disadari.
4. Transferensi
Dalam psikoanalitik Freud, transferensi berarti proses pemindahan emosi-emosi yang terpendam atau ditekan sejak awal masa kanak-kanak oleh pasien kepada terapis (Wahidah, 2017). Transferensi dinilai sebagai alat yang sangat berharga bagi terapis untuk menyelidiki ketaksadaran pasien karena alat ini mendorong pasien untuk menghidupkan kembali berbagai pengalaman emosional dari tahun-tahun awal kehidupannya.
5. Analisis resistensi
Resistensi adalah mekanisme pertahanan pada klien, dan dalam proses analisis ini lah akan mengungkap unsur yang dari masalah yang ingin disembunyikan klien. Wahidah (2017) Menyebutkan bahwa Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpres tersebut.
6. Working throught
Terus menerus menginterpretasi dan mengidentifkasi masalah klien, mengulang resistensi dan transferensi pada seluruh aspek pengalaman kejiwaan
Proses Terapi Psikoanalisis
a. Opening Phase
Pada tahap ini terapis mencoba mempelajari dan memahami permasalahan yang dihadapi oleh klien. Dari hasil tersebut terapis kemudian menentukan jenis terapi psikoanalitik yang cocok, dan membuat persetujuan tentang tahapan dan sesi yang akan dilakukan. Selanjutnya terapis secara bertahap mempelajari tentang penyebab dan simptomsimptom permasalahan klien. Pada terapeutik, terapis atau analisis membiarkan dirinya anonim serta hanya berbagi sedikit pengalaman dan perasaan sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada analisis. Proyeksi-proyeksi klien yang menjadi bahan terapi, ditafsirkan dan dianalisis. Analisis utama berurusan dengan usaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keaktifan dalam melakukan hubungan personal, dalam menangani kecemasan secara realistis, serta dalam memperoleh kendali atau tingkah laku yang implusif dan irasional.
Dalam psikoanalisis klasik, analisis biasanya menggunakan pendekatan “kertas kosong”, dimana keterlibatan terapis dalam keterbukaan diri sangatlah sedikit dan mereka mempertahankan rasa netralitas untuk mendorong transferensi hubungan, dimana klien mereka akan membuat proyeksi. Hubungan transferensi inilah yang menjadi landasan dari psikoanalisis, yakni mengacu pada transfer perasaan dari hubungan yang pernah ia alami sebelumnya pada orang lain yang ada di sekitarnya. Jika terapi mengatakan sedikit hal tentang diri mereka dan tidak banyak membagikan hal-hal pribadi tentng dirinya, maka dapat diasumsikan apapun yang dirasakan klien terhadap terapis tersebut berkaitan/berhubungan dengan orang-orang yang pernah ia temui di masa lalu (Corey, 2009 dalam Safitri dkk, 2021).
Analis/terapis harus terlebih dahulu membangun hubungan kerja (raport) dengan klien dan kemudian banyak mendengarkan serta menafsirkan. Perhatian khusus diberikan kepada resistensi klien. Analis/terapis mendengarkan, belajar, dan memutuskan kapan untuk membuat interpretasi yang tepat.
Analis/terapis mendengarkan kesenjangan dan inkonsistensi dalam cerita klien, menyimpulkan arti mimpi yang dikatakan serta asosiasi bebas klien, dan tetap sensitif terhadap petunjuk tentang perasaan klien terhadap analis/terapis.
b. Developing of Transference
Dengan perkembangan proses treatment, klien pada proses ini akan mentransfer perasaannya untuk orang yang signifikan di masa kecil pada terapis. Hal tersebut disebut dengan transferensi. Dengan demikian, terapis dapat mendalami dan lebih memahami perasaan klien. Klien harus bersedia melibatkan diri ke dalam proses terapi yang intensif dan berjangka panjang. Biasanya klien mendatangi terapi beberapa kali seminggu dalam masa tiga sampai lima tahun, yang dalam pertemuan biasanya berlangsung satu jam. Setelah beberapa kali tatap muka, kemudian klien diminta berbaring melakukan asosiasi bebas, yakni mengatakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Proses asosiasi bebas diketahui sebagai “aturan yang fundamental”. Pada saat berbaring, klien melaporkan perasaan-perasaan, pengalaman-pengalaman, asosiasi-asosiasi, ingatan-ingatan, dan fantasi-fantasinya. Proses asosiasi bebas ini dikenal sebagai aturan yang mendasar. Klien memberitahukan perasaan, pengalaman, asosiasi, kenangan, dan fantasi mereka pada analis. Berbaring di sofa mendorong klien untuk lebih mendalami, merefleksi, dan mengurangi rangsangan yang mungkin mengganggu. Hal ini juga mengurangi kemungkinan klien untuk “membaca” wajah analis mereka untuk melihat reaksi pribadi analis tersebut, hal ini pun mendorong proyeksi transferensi.
Selama proses ini, ada resistensi terus menerus, yang berguna untuk treatment dan memiliki efek yang baik. Hubungan klien dengan analis dikonseptualkan dalam proses transferensi yang menjadi inti pendekatan psikoanalitik. Transferensi mendorong klien untuk mengalamkan pada analis urusan yang tak terselesaikan, yang terdapat pada hubungan klien dimasa lampau dengan orang yang berpengaruh. Proses pemberian treatment mencangkup rekontruksi klien dan menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampaunya. Transferensi terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik-konflik itu ke saat sekarang, mengalaminya kembali, dan menyangkutkannya pada analis. Jika terapi diinginkan memiliki pengaruh menyembuhkan, maka hubungan transferensi harus digarap. Dimensi utama dari proses penggarapan adalah hubungan transferensi, yang membutuhkan waktu untuk membangunnya serta membutuhkan tambahan waktu untuk memahami dan melarutkannya, maka penggarapannya memerlukan jangka waktu yang panjang bagi keseluruhan proses terapeutik.
Transferensi adalah pergeseran ketidaksadaran klien pada analis dari perasaan dan fantasi serta reaksi pada orang lain yang signifikan di masa lalu klien. Transferensi melibatkan pengulangan tidak sadar dari masa lalu di masa sekarang. Hal tersebut mencerminkan pola pengalaman lama mereka dalam hubungan yang muncul pada kehidupan klien saat ini. Model relasional psikoanalisis menganggap transferensi sebagai proses interaktif antara klien dan terapis. Transferensi terjadi ketika klien membangkitkan tahun-tahun awal mereka mengalami konflik intens berkaitan dengan cinta, seksualitas, permusuhan, kecemasan, dan kemarahan; membawa mereka ke masa kini dan merasakan kembali pengalaman mereka lalu memindahkan perasaan-perasaan tersebut pada analis.
c. Working Through
Setelah belajar tentang transference dan informasi lain dari klien, terapis akan membuat penjelasan dan mengungkapkan hubungan antara konflik dalam bawah sadar atau desire ataupun disease yang diderita klien. Dengan cara ini, terapis memimpin klien untuk mewujudkan dan memahami tentang dirinya. Apa yang penting adalah bahwa terapis memantau perasaan mereka selama sesi terapi, dan bahwa mereka menggunakan tanggapan mereka sebagai sumber untuk memahami klien dan membantu mereka untuk memahami diri sendiri. Selain itu, sangat penting untuk terapis mengembangkan beberapa tingkat objektivitas dan tidak bereaksi defensif dan subyektif dalam menghadapi kemarahan, cinta, pujian, kritik, dan perasaan intens lainnya yang diungkapkan oleh klien mereka.
Hubungan klien-terapis sangat penting dalam terapi psikoanalitik. Sebagai hasil dari hubungan ini, klien memperoleh wawasan dalam cara kerja proses bawah sadar mereka. Kesadaran dan wawasan dalam hal ini adalah dasar dari proses pertumbuhan analitik. Klien datang untuk memahami hubungan antara pengalaman masa lalu mereka dan perilaku mereka saat ini. Pendekatan psikoanalitik mengasumsikan bahwa tanpa ini pemahaman diri yang dinamis tidak mengalami perubahan kepribadian substansial atau resolusi konflik. Kesadaran dan pemahaman atas bahan direpresi merupakan landasan bagi proses pertumbuhan analitik. Klien mampu memahami asosiasi antara pengalaman-pengalaman masa lampaunya dengan kehidupan sekarang. Pendekatan psikoanalitik berasumsi bahwa kesadaran diri bisa secara otomatis mengarah pada perubahan kondisi klien (Corey, 2009 dalam Safitri dkk, 2021).
d. Resolution of Transference
Setelah konsolidasi konflik bawah sadar dan desire klien, terapis dapat mengatur waktu untuk mengakhiri masa treatment. Namun, dalam periode ini, transferensi dapat terulang diberbagai waktu. Jadi terapis harus mengungkapkan beberapa masalah yang masih tertinggal dengan memberi penjelasan untuk membuat klien menghadapi kenyataan yang ada. Ketika klien dapat memecahkan transferensi sendiri, treatment dapat diakhiri.
Kelebihan dan Kelemahan Terapi Psikoanalisis
Menurut Surya (dalam Pradana, 2017) beberapa kelebihan dan kelemahan dari pendekatan psikoanlisis adalah sebagai berikut:
1. Kelebihan
- Adanya motivasi yang tidak selamanya disadari
- Memberikan banyak kontribusi pada teori kepribadian dan teknik psikoterapi
- Menjelaskan pentingnya masa kanak-kanak dalam perkembangan kepribadian
- Kontribusi dalam model penggunaan wawancara sebagai alat terapi
- Menekankan pentingnya sikap yang ditunjukkan terapis saat proses terapi
- Adanya penyesuaian anatara teori dan teknik
- Pandangan yang terlalu deterministik dinilai terlalu merendahkan martabat manusia
- Terlalu banyak menekankan pada pengalaman masa kanak-kanak dan menganggap kehidupan seoralh-olah sepenuhnya ditentukan masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individu berkurang.
- Terlalu meminimalkan rasioanlitas
- Bahwa perilaku ditentukan oleh energi psikis, adalah sesuatu yang meragukan
- Penyembuhan dalam psikoanalisis terlalu bersifat rasional dalam pendekatan
- Data penelitian yang bersift empiris kurang banyak mendukung sistem psikoanalisa.



Komentar
Posting Komentar