Apa itu Retardasi Mental dalam Psikologi
Retardasi Mental
Retardasi
mental dalam buku ICD-10 adalah suatu kondisi perkembangan
pikiran yang terhenti atau tidak lengkap, yang secara khusus ditandai oleh penurunan
keterampilan yang dimanifestasikan selama periode perkembangan, keterampilan
yang berkontribusi pada keseluruhan tingkat kecerdasan, yaitu kemampuan
kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Keterbelakangan bisa terjadi dengan atau
tanpa kondisi mental atau fisik lainnya. Kategori retardasi mental atau keterbelakangan mental dapat diperkirakan
dengan tes kecerdasan terstandarisasi dan skala penilaian
adaptasi sosial di lingkungan tertentu. Jika di buku DSM-V retardasi mental
disebut dengan Neurodevelopmental Disorders
atau Intellectual Disability (kecacatan
intelektual) atau gangguan
perkembangan intelektual adalah gangguan dengan onset selama periode perkembangan
yang mencakup defisit fungsi intelektual dan adaptif dalam ranah konseptual,
sosial, dan praktis. Atau dengan mudahnya dapat kita pahami dengan retardasi
mental adalah kemampuan intelegensi dibawah rata-rata sehingga menyebabkan
gangguan perilaku adaptif yang bermanifestasi pada periode perkembangan sebelum
18 tahun. Ada banyak istilah dari retardasi mental
sendiri, salah satunya cacat intelektual adalah istilah yang setara untuk
diagnosis ICD-10 untuk gangguan perkembangan intelektual. Selain itu undang-undang federal di Amerika Serikat
(Hukum Publik 111-256, Hukum Rosa) mengganti istilah retardasi mental dengan
kecacatan intelektual. Dan jurnal penelitian menggunakan istilah disabilitas
intelektual. Dengan demikian kecacatan intelektual adalah istilah umum yang
digunakan oleh profesi medis, pendidikan, kelompok awam, dan kelompok advokasi. Umumnya anak
retardasi mental mengalami keterbatasan sosialisasi akibat
tingkat kecerdasan yang rendah.
Karena kemampuan penyesuaian diri
dengan lingkungan sangat dipengaruhi oleh kecerdasan. Anak retardasi mental
dengan tingkat kecerdasan di bawah normal dan mengalami hambatan dalam
bersosialisasi. Faktor lain adalah kecenderungan mereka diisolasi (dijauhi)
oleh lingkungannya. Anak sering tidak diakui secara penuh sebagai individu dan
hal tersebut memengaruhi proses pembentukan pribadi. Anak akan berkembang
menjadi individu dengan ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap tuntutan
sekolah, keluarga, masyarakat, dan terhadap dirinya sendiri.
Kategori didasarkan pada
tingkat kecerdasan yang terdiri
atas keterbelakangan ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Menurut Somantri
(dalam Ah, Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa, 2015) kemampuan
kecerdasan anak retardasi mental
kebanyakan diukur dengan tes Stanford Binet dan Wechsler
Intelligence Scale for Children (WISC). Berikut
kategori retardasi mental menurut buku DSM-V dan ICD-10 dan rangkuman PPDGJ:
1.
Retardasi Mental
Ringan
Perkiraan rentang IQ 50 hingga 69. Kemungkinan mengakibatkan kesulitan
belajar disekolah. Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat dari
berbagai tingkat, dan masalah kemampuan berbicara yang mempengaruhi
perkembangan kemandirian dapat menetap sampai dewasa, namun sebagian besar
penyandang retardasi mental ringan dapat mencapai kemampuan berbicara untuk
keperluan sehari-hari. Banyak penderita usia dewasa akan mampu bekerja dan
mempertahankan hubungan sosial yang baik dan berkontribusi pada masyarakat.
2.
Retardasi Mental
Sedang
Perkiraan
rentang IQ 35 hingga 49. Umumnya ada profil kesenjangan (discrepancy) dari kemampuan, beberapa dapat mencapai tingkat yang
lebih tinggi dalam keterampilan visuo-spasial dari pada tugas-tugas yang
bergantung pada bahasa, sedangkan yang lainnya sangat canggung namun dapat
mengadakan interaksi sosial dan percakapan sederhana. Kemungkinan
mengakibatkan keterlambatan perkembangan yang ditandai pada masa kanak-kanak
tetapi kebanyakan bisa belajar
untuk mengembangkan tingkat kemandirian dalam perawatan diri dan memperoleh
keterampilan komunikasi dan akademik.
3.
Retardasi Mental Berat
Perkiraan rentang IQ 20 hingga
34. Kemungkinan menghasilkan
kebutuhan dukungan yang berkelanjutan. Kebanyakan penyandang retardasi mental
berat menderita gangguan motorik yang mencolok atau defisit lain yang
menyertainya, menunjukkan adanya kerusakan atau penyimpangan perkembangan yang
bermakna secara klinis dari susunan saraf pusat.
4.
Retardasi Mental
Sangat Berat
Perkiraan IQ dibawah 20. Pemahaman dari penggunaan bahasa terbatas, paling banter mengerti perintah dasar dan mengajukan permohonan sederhana. Mengalami kemampuan parah di perawatan diri, kontinuitas, komunikasi dan mobilitas.
Karakteristik Anak Retardasi Mental
Somantri (2007) mengatakan beberapa karakteristik
anak retardasi mental adalah sebagai
berikut (dalam Ah, Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa,
2015):
1.
Keterbatasan
Kecerdasan
Dengan adanya keterbatasan kemampuan
berpikir, mereka mengalami kesulitan belajar. Masalah yang sering dirasakan
terkait proses belajar mengajar di antaranya kesulitan menangkap pelajaran,
kesulitan dalam belajar yang baik, mencari metode yang tepat, kemampuan
berpikir abstrak yang terbatas, daya ingat lemah, dan lain sebagainya. Kapasitas
anak retardasi mental terutama yang bersifat abstrak seperti berhitung, menulis
dan membaca juga terbatas, serta kemampuan belajarnya cenderung tanpa
pengertian atau cenderung belajar dengan membeo.
2. Keterbatasan Sosial
Dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara, dan memimpin diri. Waktu masih kanak-kanak, mereka harus dibantu terus-menerus, disuapi makanan, dipasangkan dan ditanggali pakaian, disingkirkan dari bahaya, diawasi waktu bermain dengan anak lain, bahkan ditunjuki terus apa yang harus dikerjakan. Mereka bermain dengan teman-teman yang lebih muda, karena tidak dapat bersaing dengan teman sebayanya. Tanpa bimbingan dan pengawasan, mereka dapat terjerumus ke dalam tingkah laku yang terlarang terutama mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual. Masalah ini berkaitan dengan masalah-masalah atau kesulitan dalam hubungannya dengan kelompok dan individu di sekitarnya. Kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungannya sangat dipengaruhi oleh kecerdasan. Oleh karena tingkat kecerdasan anak retardasi mental berada di bawah normal, maka dalam kehidupan bersosialisasi mengalami hambatan.
3. Keterbatasan Mental Lainnya
Memerlukan waktu lebih lama untuk
melaksanakan reaksi pada situasi yang belum dikenalnya, keterbatasan penguasaan
bahasa, kurang mampu untuk mempertimbangkan sesuatu, membedakan antara baik dan
buruk, serta membedakan yang benar dan salah.
Faktor Penyebab Retardasi Mental
Maramis (2010) menyebutkan faktor penyebab
retardasi mental yaitu sebagai berikut
(dalam Ah, Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa, 2015):
1. Faktor Genetik
Abnormalitas kromosom yang paling umum
menyebabkan retardasi mental adalah Sindrom Down yang ditandai oleh
adanya kelebihan kromosom atau kromosom ketiga pada pasangan kromosom ke-21,
sehingga mengakibatkan jumlah kromosom menjadi Sindrom Fragile X, yang
merupakan tipe umum dari retardasi mental yang diwariskan. Gangguan ini
disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X. Gen yang rusak berada pada area
kromosom yang tampak rapuh, sehingga disebut Sindrom Fragile X. Efek
dari Sindrom Fragile X berkisar antara gangguan belajar ringan sampai
retardasi parah yang dapat menyebabkan gangguan bicara dan fungsi yang berat.
2. Faktor Prenatal
Penyebab retardasi mental saat prenatal adalah infeksi dan penyalahgunaan obat selama ibu mengandung. Infeksi yang biasanya terjadi adalah rubella, yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Penyakit ibu juga dapat menyebabkan retardasi mental, seperti sifilis, herpes genital, hipertensi, diabetes melitus, anemia, tuberkulosis paru. Narkotik, alkohol, dan rokok yang berlebihan serta keadaan gizi dan emosi pada ibu hamil juga sangat berpengaruh pada terjadinya retardasi mental.
3. Faktor Perinatal
Retardasi mental yang disebabkan oleh
kejadian yang terjadi pada saat kelahiran adalah luka-luka pada saat kelahiran,
sesak napas (asfiksia), dan lahir prematur, serta proses kelahiran yang lama.
4. Faktor Pascanatal
Banyak sekali faktor pascanatal yang dapat
menimbulkan kerusakan otak dan mengakibatkan terjadinya retardasi mental.
Termasuk di antaranya adalah infeksi (meningitis, ensefalitis,
meningoensefalitis, dan infeksi pada bagian tubuh lain yang menahun), trauma
kapitis, tumor otak, kelainan tulang tengkorak, dan keracunan pada otak.
Kesehatan ibu yang buruk dan terlalu sering melahirkan merupakan penyebab
berbagai macam komplikasi kelahiran seperti bayi lahir prematur, perdarahan
postpartum, dan lain sebagainya.
5. Rudapaksa (Trauma) dan/sebab Fisik Lain
Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma
lain, seperti sinar X, bahan kontrasepsi, dan usaha melakukan abortus dapat
mengakibatkan kelainan dengan RM. Rudapaksa setelah lahir tidak begitu sering
mengakibatkan retardasi mental.
6. Gangguan Metabolisme, Pertumbuhan, Gizi
Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein), serta pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini. Gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum umur 4 tahun sangat memengaruhi perkembangan otak serta dapat mengakibatkan retardasi mental. Keadaan dapat diperbaiki dengan memperbaiki sebelum umur 6 tahun. Sesudah ini biarpun anak itu dibanjiri dengan makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan.
7. Penyakit Otak yang Nyata (Setelah Kelahiran)
Kelompok ini termasuk retardasi mental
akibat tumor/kanker (tidak termasuk pertumbuhan sekunder karena rudapaksa atau
peradangan) dan beberapa reaksi selsel otak yang nyata, tetapi yang belum
diketahui betul penyebabnya (diduga turunan).
Penanganan terhadap
penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita saja, melainkan
juga pada orang tuanya. Siapapun orang tuanya pasti memiliki beban psiko-sosial
yang tidak ringan jika anaknya menderita retardasi mental, apalagi jika masuk
kategori yang berat dan sangat berat. Oleh karena itu agar orang tua dapat
berperan secara baik dan benar maka mereka perlu memiliki kesiapan psikologis
dan teknis. Untuk itulah maka mereka perlu mendapatkan layanan konseling.
Konseling dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan agar orang tua
penderita mampu mengatasi beban psiko-sosial pada dirinya terlebih dahulu.
1.
Pentingnya Pendidikan dan
Latihan untuk Penderita Retardasi Mental
a.
Latihan untuk
mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki dengan sebaik-baiknya.
b.
Pendidikan dan latihan
diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang salah.
c. Dengan latihan maka
diharapkan dapat membuat keterampilan berkembang, sehingga ketergantungan pada
pihak lain menjadi berkurang atau bahkan hilang. Melatih penderita retardasi
mental pasti lebih sulit dari pada melatih anak normal antara lain karena perhatian
penderita retardasi mental mudah terinterupsi. Untuk mengikat perhatian mereka
tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan merangsang indera.
2.
Jenis-Jenis
Latihan untuk Penderita Retardasi Mental
a. Latihan
di rumah: belajar makan sendiri, membersihkan badan dan berpakaian sendiri,
dst.
b. Latihan
di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap sosial.
c. Latihan
teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis kelamin penderita.
d. Latihan
moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai hal-hal yang baik dan
buruk secara moral.
Retardasi
mental adalah suatu kondisi perkembangan pikiran yang
terhenti atau tidak lengkap, yang secara khusus ditandai oleh penurunan
keterampilan yang dimanifestasikan selama periode perkembangan, keterampilan
yang berkontribusi pada keseluruhan tingkat kecerdasan, yaitu kemampuan
kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Keterbelakangan bisa terjadi dengan atau
tanpa kondisi mental atau fisik lainnya. Kategori retardasi mental terbagi menjadi 4 yaitu retardasi mental ringan
dengan IQ 50-69, retardasi mental sedang dengan IQ 35-49, retardasi mental
berat dengan IQ 20-34 dan terakhir retardasi mental sangat berat dengan IQ
dibawah 20. Faktor yang menyebabkan anak
mengalami retardasi mental adalah faktor genetik, faktor prenatal, faktor
perinatal, faktor pascanatal, rudapaksa (trauma), gangguan metabolisme,
pertumbuhan, gizi dan terakhir penyakit otak yang nyata setelah kelahiran. Ada banyak cara penanganan anak retardasi mental salah
satunya adalah dengan latihan.



Komentar
Posting Komentar