Closeness to God, Spiritual Struggles, and Wellbeing in the First Year
of College
Nama Jurnal
Frontiers in Psychology
Volume dan Nomor
13
Tahun
2022
Penulis
Madison Kawakami Gilbertson, Shannon T. Brady,
Tsotso Ablorh, Christine Logel and Sarah A. Schnitker
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti mengenai
kesejahteraan mahasiswa yang baru masuk yang diprediksi dari perjuangan
spiritual dan kedekatan dengan Tuhan karena masih sedikit penelitian mengenai
hal tersebut padahal sangat berhubungan dengan pengembangan identitas
mahasiswa. Penelitian ini berhipotesis jika kedekatan dengan Tuhan akan
berhubungan secara positif dengan kesejahteraan, kesehatan mental, kesehatan
fisik dan rasa diterima di perguruan tinggi atau lingkungan baru.
Subjek Penelitian
Sebanyak 1.190 mahasiswa dari 6 perguruan tinggi yang tergabung
dalam kelompok agama. Tetapi yang digunakan sebagai sampel analitik hanya 839
mahasiswa. Sebanyak 762 mahasiswa beragama Kristen dengan pembagian
Protestan (59%), Katolik (29%), Ortodoks (2%), Momon (<1%), dan Saksi Yehuwa
(<1%).
Sebanyak 77 mahasiswa non Kristen dengan pembagian Yahudi
(1%), Muslim (1%), Buddha (1%), Hindu (<1%), Unitarian (<1%), Baha’i
(<1%), Tao (<1%), Wiccan (<1%) dan yang mengaku penganut spiritual
tetapi tidak beragama (5%).
Dari data keseluruhan sebanyak 63% adalah perempuan, 37%
adalah laki – laki dan 1% mengidentifikasi gender dengan cara lain. Kemudian untuk
ras/etnis, sebanyak 72% adalah kulit putih, sebanyak 10% orang berkulit hitam,
sebanyak 7% adalah Latin, sebanyak 3% adalah Asia dan sebanyak 4% adalah
Multiras. Kemudian sebanyak <1% adalah pribumi Amerika, dan sebanyak 3%
adalah lainnya, dan <1% tidak memberitahu.
Metode Penelitian
Kuantitatif Cross Sectional
Langkah Penelitian
Dilakukan penyebaran alat ukur atau disebutnya survei
secara online pada mahasiswa yang menjelang akhir tahun pertama kuliah. Mahasiswa yang menyelesaikan survei selama 30 menit
mendapatkan kartu hadiah Amazon.com senilai $5. Kemudian data yang di dapatkan dianalisis untuk mencari
koefisien korelasi dan deskriprit. Penelitian ini
menggunakan R dan paket Ime4 untuk menguji hubungan antara variabel spiritual
dan kesejahteraan, kesejahteraan mental, stress, kesehatan fisik dan variabel
kepemilikan.
Hasil Penelitian
Mahasiswa di universitas negeri di wilayah Tenggara
memiliki kedekatan rata-rata tertinggi dengan Tuhan (M=3,31) (SD=1,25).
Sedangkan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi seni liberal swasta
kedekatan dengan Tuhan hampir satu poin lebih rendah (M=2,38) (SD=1,23).
Mahasiswa di perguruan tinggi seni liberal berbasis agama
memiliki rata-rata pergumulan spiritual tertinggi (M=2,67) (SD=1,06). Sedangkan
mahasiswa di perguruan tinggi seni liberal lain memiliki rata-rata pergumulan
spiritual terendah (M=2,23) (SD=0,97).
Kedekatan dengan Tuhan berkaitan secara positif dengan
ketiga indikator kesejahteraan (kebahagiaan, kepuasan hidup dan makna hidup).
Dan perjuangan spiritual berhubungan negatif dengan ketiga indikator
kesejahteraan (kebahagiaan, kepuasan hidup dan makna hidup). Ditemukan hasil
mahasiswa Kristen memiliki kebahagiaan yang lebih tinggi dan mahasiswa URM
memiliki kepuasan hidup dan makna hidup yang lebih rendah.
Kedekatan dengan Tuhan memiliki keterkaitan secara
negatif dengan kecemasan, depresi dan kesepian tetapi berhubungan secara
positif dengan kecemasan, dan kesehatan mental secara umum. Sedangkan
perjuangan spiritual berhubungan positif dengan kecemasan, depresi dan kesepian
tetapi berhubungan negatif dengan kesehatan mental secara umum. Ditemukan hasil
mahasiswa URM memiliki depresi dan kesepian yang tinggi serta kesehatan mental
yang rendah.
Dalam penelitian ini kedekatan dengan Tuhan dikaitan
dengan hal yang positif yaitu penilaian stres sekunder (kemampuan mengatasi
stres) dan kesehatan fisik. Sedangkan perjuangan spiritualitas dikaitkan dengan
penilaian stres yang primer (seberapa besar stres). Ditemukan hasil perempuan
memiliki kesehatan fisik yang lebih buruk dan stres primer yang lebih tinggi
dan stres sekunder yang rendah. Mahasiswa URM memiliki kesehatan fisik yang
lebih buruk dan tingkat stres primernya lebih rendah.
Kedekatan dengan Tuhan memimiliki hubungan yang positif
dengan rasa memiliki dan berhubungan negatif dengan ketidakpastian. Sedangkan
perjuangan spiritualitas memiliki hubungan yang positif dengan ketidak pastian
rasa memililki. Ditemukan mahasiswa URM punya rasa memiliki yang rendah dan
ketidakpastian rasa yang tinggi.
Kedekatan dengan Tuhan
dan perjuangan spiritual memiliki hubungan yang signifikan dengan
kesejahteraan, kesehatan mental dan rasa memiliki selama tahun pertama kuliah
yang mana akan berkaitan dengan proses perkuliahan nya.
Religious Beliefs and Well-Being and Distress in Congestive Heart
Failure Patients
Nama Jurnal
Journal of Behavioral Medicine
Volume dan Nomor
43
Tahun
2019
Penulis
Lauren M. Carney, Crystal L. Park & Ian A. Gutierrez
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti keterkaitan
keyakinan agama dengan kesejahteraan dan kesusahan pada pasien yang mengalami
gagal jantung kongestif, penyakit kronis dan progresif, penyakit – penyakit
yang mengancam jiwa. Agama untuk beberapa orang dengan penyakit yang serius
dapat memberikan sumber makna dan kenyamanan yang sangat penting. Penelitian
berhipotesis jika keyakinan agama akan menjadi lebih kuat seiring dengan
perkembangan penyakit ini dan kekuatan keyakinan agama ini akan berhubungan
positif dengan kesejahteraan dan berbanding terbalik dengan kesusahan.
Subjek Penelitian
Responden sebanyak 191 orang.
Responden berasal dari wilayah Cincinnati, Ohio.
Responden pada penelitian ini adalah individu yang
memiliki penyakit CHF (penyakit kronis dan progresif akibat penyakit arteri
koroner, hipertensi yang menganggu kemampuan jantung untuk mempertahankan
sirkulasi darah normal).
Tidak memenuhi syarat untuk transplantasi.
Berusia sekitar 45 tahun.
Bisa membaca dan berbicara bahasa inggris.
Tidak memiliki bukti
psikosis atau gangguan kognitif parah.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan cara kuantitatif secara
longitudinal dan dilakukan selama 6 bulan.
Langkah Penelitian
Peneliti memberikan kuesioner kepada responden
yang bersedia untuk mengisi secara langsung ataupun secara tidak langsung, yang
kemudian setelah 6 bulan kemudian peneliti memberikan kuesioner yang kedua
untuk diisi oleh responden. Responden menerima $10 pada setiap pengisian untuk
tanda penghargaan. Setelah mendapatkan data tersebut kemudian dianalisis data
tersebut. Untuk pengujian hipotesis dengan set model regresi.
Hasil Penelitian
Ditemukan sampel pada penelitian ini hampir 88% adalah
menganut agama Kristen.
Ditemukan juga sekitar 71,2% sampel sangat memiliki
keyakinan yang kuat terhadap Tuhan, dan sebanyak 49,2% menyakini adanya
kehidupan setelah kematian.
Penelitian ini menemukan hasil jika perubahan keyakinan
pada Tuhan atau penurunan hampir cukup tinggi sekitar 11% sampel sedangkan
peningkatan keyakinan terhadap Tuhan hampir 7% sampel. Kemudian pada keyakinan
pada kehidupan setelah kematian menunjukkan hal yang sebaliknya.
Lebih banyak peserta yang mengalami peningkatan keyakinan
terhadap kehidupan setelah kematian (23,6%) dibandingkan penurunannya (13,2%).
Penelitian ini menemukan
hasil jika pasien dengan CHF lebih mungkin mengalami perubahan keyakinan mereka
tentang kehidupan setelah kematian dari pada keyakinan tentang Tuhan. Dampaknya
pada kesejahteraan dan hasil dari kesusahan beragam, seperti keyakinan memiliki
hubungan yang berbeda pada peningkatan dan penurunan kesejahteraan. Temuan ini
dapat menjadi bagian penting pada perawatan paliatif dan perawatan akhir
kehidupan.
Spiritual Well-Being and Mental Health During the COVID-19 Pandemic in
Italy
Nama Jurnal
Frontiers in Psychiatry
Volume dan Nomor
12
Tahun
2021
Penulis
Ilaria Coppola, Nadia Rania, Rosa Parisi dan
Francesca Lagomarsino
Tujuan Penelitian
Selama pandemi COVID-19 di Italia, masyarakat
mengalami situasi baru yang mana memaksa mereka harus tinggal di dalam rumah
dalam jangka waktu yang lama. Banyak orang yang mengalami kesulitan besar,
tidak hanya karena takut tertular atau masalah ekonomi tetapi juga virus ini
mengubah cara hidup masyarakat secara mendalam. Social distancing menjadi hal
yang sangat penting dalam pengaruh semua hubungan personal termasuk pada
keluarga dekat. Muncullah penelitian ini dengan bertujuan untuk memahami peran
spiritualitas dan religiusitas dalam bereaksi terhadap situasi sulit selama
COVID-19 khususnya terhadap kesehatan fisik dan psikologis orang – orang yang
terlibat. Penelitian ini berasumsi ika seiring meningkatnya kesejahteraan
spiritual maka persepsi terhadap kesehatan mental yang positif juga meningkat
dan jenis kelamin maupun usia juga mempengaruhu kesejahteraan spiritual dan
kesehatan mental.
Subjek Penelitian
Peserta sebanyak 1.250 orang dewasa di Italia dan
mayoritas adalah perempuan (77,3%) yang minimal berusia 18 tahun.
Berdasarkan keyakinan
agama sebanyak 40,9% peserta menyatakan agnostik/atheis atau tidak memiliki
keyakinan. Sedangkan sebanyak 57,4% adalah memiliki keyakinan yang mayoritasnya
adalah seorang Kristen Katolik (53%).
Metode Penelitian
Kuantitatif
Langkah Penelitian
Pembagian kuesioner disebarkan secara online
melalui email, whatsapp, forum diskusi dan jejaring sosial facebook. Yang mana
responden diminta untuk membaca tujuan penelitian, tema yang diusulkan dan
jenis rekonstruksi terlebih dahulu sebelum mengisi kuesioner tersebut.
Pengambilan data berlangsung selama 10 hari.
Hasil Penelitian
Penelitian ini menemukan hasil jika masyarakat di Itali
merasakan tingkat kesejahteraan spiritual dan kesehatan mental yang lebih
rendah ketika situasi COVID-19 dibandingkan situasi sebelum pandemi COVID-19.
Perbedaan jenis kelamin juga memiliki hasil yang
signifikan. Perempuan memiliki persepsi kesehatan mental yang lebih rendah
daripada laki – laki.
Spiritualitas dan praktik keagaamn menjadi faktor
pelindung yang penting, tidak hanya berhubungan dengan kesehatan psikologis dan
mental tetapi juga kesehatan secara fisik.
Keluarga menjadi faktor pelindung pada kesehatan mental
bahkan pada situasi yang penuh dengan faktor stress. Masyarakat Itali yang
tidak tinggal sendiri, terutama yang harus mengasuh anak kecil memiliki
persepsi kesehatan mental yang lebih tinggi dan mampu mengaktifkan sumber daya.
Penelitian ini juga
menemukan jika individu yang menyatakan memiliki keyakinan agama justru
merasakan tingkat kesejahteraan spiritual yang lebih tinggi dan memiliki tingkat
yang tinggi di semua dimensinya seperti iman dan keyakinan, makna hidup dan
kualitas hubungan yang berhubungan dengan kesejahteraan. Dan berbanding
terbalik dengan yang mengaku agnostik dan atheis atau tidak memiliki keyakinan.
Does Spirituality or Religion Positively Affect Mental Health?
Meta-analysis of Longitudinal Studies
Nama Jurnal
The International Journal for the Psychology of Religion
Volume dan Nomor
31
Tahun
2020
Penulis
Bert Garssen, Anja Visser & Grieteke Pool
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah
dampak positif longitudinal dari agama atau spiritualitas terhadap kesehatan
mental. Kesehatan mental pada penelitian ini adalah kepuasan hidup,
kesejahteraan dan kualitas hidup.
Subjek Penelitian
181 studi longitudinal mengenai hubungan agama
dan spirtualitas dengan kesehatan mental tetapi sebanyak 133 tidak digunakan
karena tidak sesuai dengan kriteria peneliti. Hanya 48 penelitian yang
digunakan pada penelitian ini. Sebagian besar artikel penelitian berasal dari
Amerika Serikat (36) dan sisanya dari negara lain seperti Kanada, Eropa dan
lainnya.
Metode Penelitian
Meta-analysis studi longitudinal.
Langkah Penelitian
Pencarian artikel penelitian yang akan di review
dilakukan di Web of Science, Pubmed, Psycinfo, dan Cinahi dengan menggunakan
keyword spiritual, religius, iman, kehadiran di gereja atau dikombinasikan
dengan jdul atau kata topik longitudinal dengan keyword kesusahan, kecemasan,
depresi, kesejahteraan, suasana hati, penyesuaian, pertumbuhan pasca trauma,
konsekuensi positif, kepuasan hidup, kualitas hidup, kesehatan mental,
psikiater dan DSM. Yang kemudian artikel yang didapatkan dikumpulkan dan
dianalisis yang sesuai dengan kriteria yang dicari.
Hasil Penelitian
Penelitian ini menemukan hasil jika ukuran dampak
keseluruhan yang signifikan tetapi kecil yaitu r = 0,08 (95% CI: 0,06 hingga
0,10). Dari delapan prediktor R/S yang dibedakan, hanya partisipasi dalam
kegiatan keagamaan publik dan pentingnya agama yang secara signifikan
berhubungan dengan kesehatan mental (r = 0,08 dan r = 0,09; 95% CI: 0,04 hingga
0,11 dan 0,05 hingga 0,12 , masing-masing).
Meta-analisis menunjukkan hasil hubungan yang konsisten,
meski sederhana antara religiusitas atau spiritualitas dengan kesehatan mental
(distress, kesejahteraan, kesehatan mental, suasana hati negatif/positif, dan
kepuasan hidup). Tetapi hanya memberikan sedikit informasi mengenai sifat
hubungan ini karena artikel yang digunakan rata – rata menggunakan studi
cross-sectional.
Religiusitas dan
spiritualitas memberikan hubungan yang kecil dan signifikan, hanya r = 0,08
yang artinya tidak lebih 0,6% varians dalam kesehatan mental dijelaskan oleh
religiusitas dan spiritualitas.
The Relationship Between Spirituality, Health-Related Behavior, and
Psychological Well-Being
Nama Jurnal
Frontiers in Psychology
Volume dan Nomor
11
Tahun
2020
Penulis
Agnieszka Bozek, Pawel F. Nowak & Mateusz
Blukacz
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan
antara spiritualitas, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan dan
kesejahteraan psikologis dalam konteks pendidikan yang diperoleh. Penelitian
ini berasumsi bahwa sipritualitas dan perilaku yang berhubungan dengan
kesehatan merupakan faktor yang dapat dikaitkan secara positif dnegan
kesejahteraan psikologis. Penelitian ini juga berasumsi jika kedua faktor
tersebut memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan subjektif dan
spiritualitas juga akan dikaitkan dengan perilaku yang berhubungan dengan
kesehatan.
Subjek Penelitian
595 mahasiswa dari 6 universitas Polandia yang program
studinya berfokus pada tubuh manusia atau pikiran dan jiwa manusia.
Sebanyak 295 mahasiswa mengambil jurusan kesehatan fisik,
fisioterapi, pariwisata dan rekreasi.
Sebanyak 300 mahasiswa mengambil jurusan psikologi,
pedagogi atau teologi.
Sebanyak 387 (65%)
adalah perempuan dan 208 (35%) adalah laki – laki.
Usia subjek
penelitian ini berkisar 18-30 tahun (M=21,67) (SD=1.88).
Metode Penelitian
Kuantitatif cross-sectional
Langkah Penelitian
Peneliti terlebih dahulu meminta izin pada pimpinan
lembaga universitas tertentu dan dosen penanggung jawab kelas.
Kemudian setelah diizinkan, pada hari yang ditentukan
peneliti meminta mahasiswa untuk mengisi satu set kuesioner. Berlangsung kurang
lebih 30 menit.
Data yang didapatkan kemudian dikumpulkan dan dipindahkan
ke spreadsheet dan diperiksa ulang.
Kemudian data dianalisis dengan menggunakan
paket perangkat lunak Mpuls 7.
Hasil Penelitian
Hasilnya menunjukkan bahwa spiritualitas dan perilaku
yang berhubungan dengan kesehatan berhubungan langsung dengan kesejahteraan
psikologis (p<0,001). Spritualitas menunjukkan hubungan positif dengan
perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (p<0,001). Jalur spiritualitas
tidak langsung terhadap kesejahteraan psikologis melalui perilaku yang
berhubungan dengan kesehatan juga dibedakan (p<0,001). Hubungan tidak
langsung mengukur perubahan kesejahteraan yang diprediksi oleh perilaku terkait
kesehatan yang terkait dengan spiritualitas selain hubungan langsung.
Hubungan langsung antara jenis pendidikan yang diperoleh
dengan kesejahteraan psikologis tidak signifikan (M0 = 4.52, SD0 = 0.31; M1 =
4.55, SD1 = 0.33; p = 0.305) begitu pula dengan hubungan antara jenis
pendidikan dengan kesehatan. perilaku (M0 = 77.18, SD0 = 12.11; M1 = 78.35, SD1
= 12.90; p = 0.093), yang menunjukkan bahwa kedua variabel tidak berbeda secara
signifikan antar kelompok. Hubungan antara jenis pendidikan dan spiritualitas
lebih kuat pada kelompok pikiran dan jiwa manusia (M0 = 3.41, SD0 = 0.55; M1 =
3.73, SD1 = 0.56; p <0,001).
Spiritualitas dan perilaku yang berhubungan dengan
kesehatan berhubungan positif dengan kesejahteraan psikologis, dan hubungan
dengan spiritualitas juga dimediasi oleh perilaku yang berhubungan dengan
kesehatan. Hanya spiritualitas yang dikaitkan dengan jenis pendidikan yang
diperoleh, terutama pada kelompok siswa yang studinya berfokus pada pikiran dan
jiwa manusia. Selain itu, spiritualitas pada kelompok ini tampaknya menunjukkan
hubungan yang lebih kuat dengan kesejahteraan psikologis. Temuan ini dapat berkontribusi
pada pemahaman yang lebih baik tentang beberapa faktor penentu kesejahteraan
psikologis. Hal ini membawa implikasi penting bagi para pengajar yang
bertanggung jawab atas persiapan kurikulum untuk memperhitungkan isi pengajaran
yang berkaitan dengan perilaku gaya hidup sehat dan pengembangan spiritual.
Terdapat hubungan tidak langsung juga antara jenis
pendidikan dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan melalui spiritualitas
(p<0,001). Terdapat indikasi jika
spiritualitas adalah penentu kesejahteraan psikologis individ sebelum
berhubungan dengan kesehatan secara fisik.
Review
Pada
beberapa penelitian yang telah direview sebelumnya diatas, dapat dipahami jika
spritualitas well-being sangat memiliki hubungan yang signifikan terhadap
well-being seseorang dalam menjalani hidup seperti kesejahteraan, kepuasan
hidup, makna hidup maupun hal – hal mengenai kesehatan mental. Meski tidak semua artikel menemukan hasil yang
berhubungan secara signifikan dengan sangat kuat, tetapi ada juga yang rendah
tetapi tetap memiliki hubungan yang signifikan meskipun rendah. Hal tersebut
dikarenakan spirtualitas well-being adalah sesuatu yang kompleks dan sangat
berkaitan erat dengan kedekatan dengan Tuhan, dan pada salah satu artikel
tersebut menyebutkan jika individu yang memiliki kedekatan dengan Tuhan maka
akan muncul rasa memiliki yang kuat dan juga tidak memiliki rasa
ketidakpastian, artinya semuanya pasti dan berkaitan dengan kesejahteraan hidup
mengenai kepuasan hidup, makna hidup.
Pada segala situasi, kondisi dan usia, spritualitas well
being sangat dapat mempengaruhi well being seseorang dalam menjalani kehidupan.
Seperti pada beberapa jurnal yang kita review sebelumnya. Pada saat kondisi
genting seperti COVID-19, yang mana kehidupan sangat berubah drastis dan
spiritual well being membawa dampak untuk tetap bertahan hidup. Begitu juga
pada pasien yang mengalami suatu penyakit kronis, yang mana kehidupannya
mungkin sudah tidak lama lagi, alih – alih khawatir dengan hal tersebut justru
mereka meningkatkan pengetahuan mereka akan kehidupan setelah kematian dan
menyiapkan pada hal tersebut sehingga merasakan kesejahteraan pada sisa – sisa
kehidupan yang dijalaninya karena tidak ada lagi yang menjadi beban pikirannya
di dunia. Kemudian pada dunia pendidikan juga sangat berpengaruh, yang mana
pada jurnal yang sebelumnya di review spiritual well being sangat berpengaruh
pada well being mahasiswa yang masih baru masuk kuliah. Berdampak pada
bagaimana kehidupannya di perkuliahan, bersosialisasi dengan teman – teman
baru, mencari kelompok sosial baru dan berkaitan juga pada jati diri,
pencapaian ketika perkuliahan dan hal – hal akademik lainnya.
Dalam pernyataan tersebut dapat dikatakan
ataupun diasumsikan jika spiritual well being ini menjadi poin yang sangat
penting untuk dapat kita perhatikan dan tingkatkan untuk menuju kesejahteraan
ataupun well being pada kita selama masa kehidupan di dunia ini.
Daftar Pustaka
Gilbertson, M. K., Brady, S. T., Ablorh, T., Logel, C., & Schnitker, S. A. (2022). Closeness to God, spiritual struggles, and wellbeing in the first year of college. Frontiers in psychology, 13, 742265.
Carney, L. M., Park, C. L., & Gutierrez, I. A. (2020). Religious beliefs and well-being and distress in congestive heart failure patients. Journal of Behavioral Medicine, 43(3), 437-447.
Coppola, I., Rania, N., Parisi, R., & Lagomarsino, F. (2021). Spiritual well-being and mental health during the COVID-19 pandemic in Italy. Frontiers in psychiatry, 12, 626944.
Garssen, B., Visser, A., & Pool, G. (2021). Does spirituality or religion positively affect mental health? Meta-analysis of longitudinal studies. The International Journal for the Psychology of Religion, 31(1), 4-20.
Bożek, A., Nowak, P. F., & Blukacz, M. (2020). The relationship between spirituality, health-related behavior, and psychological well-being. Frontiers in Psychology, 11, 1997.
Komentar
Posting Komentar