Kematangan Emosi dalam Psikologi

 


1. Pengertian Kematangan Emosi

Kematangan emosi merupakan suatu kedewasaan seseorang dalam berpikir secara objektif yang dimanifestasikan dalam perilaku yang wajar dan sesuai dengan fakta yang ada. Semium (Rizqi, 2011), mengungkapkan pengertian kematangan emosi adalah kemampuan seseorang untuk bereaksi dalam berbagai situasi kehidupan dengan cara-cara yang lebih bermanfaat dan bukan dengan cara-cara bereaksi seorang anak.

            Seorang remaja yang matang emosinya, akan meledakkan emosinya pada saat yang tepat dan waktu yang yang tepat pula. Bila remaja memiliki emosi yang stabil, maka ia mampu mengadakan kompromi atau penyesuaian diri terhadap suatu yang diinginkan dengan fakta yang ada sehingga dapat menghadapi masalah dengan tenang. Bagi remaja yang saat menghadapi suatu permasalahan sehingga membangkitkan emosinya dan tidak dapat mengendalikannya, maka remaja tersebut dikatakan belum memiliki emosi yang matang.

            Yustinus Semiun (Rizqi, 2011) mendefinisikan kematangan emosi mengacu pada kapasitas seseorang untuk bereaksi dalam berbagai situasi kehidupan dengan cara-cara yang lebih bermanfaat dan bukan dengan cara-cara bereaksi anak. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulakan bahwa kematangan emosi adalah sebagai suatu keadaan dimana suatu individu dapat menerima suatu keadaan atau kondisi dengan memunculkan emosi yang sesuai dengan apa yang terjadi padanya tanpa berlebihan atau meledak-ledak. Sehingga individu itu dapat berpikir secara kritis terlebih dahulu sebelum mengutarakan atau menyampaikan apa yang dirasakannya sehingga dapat mengutarakannya pada waktu yang tepat dan dengan cara yang dapat diterima oleh orang lain. 

2. Aspek-Aspek Kematangan Emosi

Menurut Murray (dalam Astuti, 2009) aspek-aspek yang terkandung dalam kematangan emosi remaja antara lain :

1.      Pemberian dan penerimaan cinta, yaitu mampu mengekspresikan cintanya sebagaimana remaja dapat menerima cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang mencintainya

2.      Pengendalian emosi, yaitu individu yang matang secara emosi dapat menggunakan amarahnya sebagai sumber energy untuk meningkatkan usahanya dalam mencari solusi.

3.      Toleransi terhadap frustasi, yaitu ketika hal yang diinginkan tidak berjalan sesuai dengan keinginan, individu yang matang secara emosi mempertimbangkan untuk menggunakan cara atau pendekatan lain

4.      Kemampuan mengatasi ketegangan, yaitu pemahaman yang baik akan kehidupan menjadikan individu yang matang secara emosi; yakni akan kemampuannya untuk memperoleh apa yang diinginkannya sehingga remaja dapat mengatasi ketegangan.

            Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek kematangan emosi adalah pemberian dan penerimaan cinta, pengendalian emosi, toleransi terhadap frustasi, dan kemampuan mengatasi ketegangan. 

3. Faktor yang Mempengaruhi Kematangan Emosi

Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan emosi menurut Young (dalam Yusuf, 2011) antara lain:

1.      Lingkungan

Faktor lingkungan tempat hidup termasuk didalamnya yaitu lingkungan keluarga dan masyarakat. Keadaan keluarga yang tidak harmonis, terjadi keretakan dalam hubungan keluarga yang tidak ada ketentraman dalam keluarga dapat menimbulkan persepsi yang negatif pada diri individu. Begitu pula lingkungan sosial yang tidak memberikan rasa aman dan lingkungan sosial yang tidak mendukung juga akan mengganggu kematangan emosi.

2.      Individu

Faktor individu meliputi faktor kepribadian yang dimiliki individu. Adanya persepsi dalam setiap individu dalam mengartikan sesuatu hal juga dapat menimbulkan gejolak emosi pada diri individu. Hal ini disebabkan oleh pikiran negatif, tidak realistik, dan tidak sesuai dengan kenyataan.  Jika individu dapat mengendalikan pikiran-pikiran yang keliru menjadi pikiran yang benar, maka individu dapat menolong dirinya sendiri untuk mengatur emosinya sehingga dapat mempersepsikan sesuatu hal dengan baik.

3.      Pengalaman

Pengalaman yang diperoleh individu dalam hidupnya akan mempengaruhi kematangan emosi. Pengalaman yang menyenangkan akan memberikan pengaruh yang posistif terhadap individu, akan tetapi pengalaman yang tidak menyenangkan bila selalu berulang akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap individu maupun terhadap kematangan emosi.

            Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan faktor yang mempengaruhi kematangan emosi adalah lingkungan, individu, dan pengalaman yang diperoleh individu.

4. Karakteristik Kematangan Emosi

Hurlock (2004) mengemukakan ada beberapa karakteristik kematangan emosi pada individu, antara lain:

1.      Kontrol emosi

Individu tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain dan mampu menunggu saat dan tempat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara yang bisa diterima. individu dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial. Individu yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima secara sosial atau membebaskan diri dari energi fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang dapat diterima secara sosial.

2.      Pemahaman diri

Memiliki reaksi emosional yang lebih stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati ke suasana hati yang lain. Individu mampu memahami emosi diri sendiri, memahami hal yang sedang dirasakan, dan mengetahui penyebab dari emosi yang dihadapi individu tersebut.

3.      Penggunaan fungsi kritis mental individu

Mampu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap situasi tersebut, dan individu juga tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau individu yang tidak matang emosinya.

      Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik individu yang telah mencapai kematangan emosi adalah individu yang mampu mengendalikan emosinya sesuai dengan waktu, situasi, dan cara yang dapat diterima; individu mampu memahami emosi diri sendiri; dan individu mampu menilai dan memutuskan situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional.


Komentar

Postingan Populer