Kematangan Emosi dalam Psikologi
Kematangan emosi merupakan suatu kedewasaan seseorang dalam
berpikir secara objektif yang dimanifestasikan dalam perilaku yang wajar dan
sesuai dengan fakta yang ada. Semium (Rizqi, 2011), mengungkapkan pengertian
kematangan emosi adalah kemampuan seseorang untuk bereaksi dalam berbagai
situasi kehidupan dengan cara-cara yang lebih bermanfaat dan bukan dengan
cara-cara bereaksi seorang anak.
Seorang remaja
yang matang emosinya, akan meledakkan emosinya pada saat yang tepat dan waktu
yang yang tepat pula. Bila remaja memiliki emosi yang stabil, maka ia mampu
mengadakan kompromi atau penyesuaian diri terhadap suatu yang diinginkan dengan
fakta yang ada sehingga dapat menghadapi masalah dengan tenang. Bagi remaja
yang saat menghadapi suatu permasalahan sehingga membangkitkan emosinya dan
tidak dapat mengendalikannya, maka remaja tersebut dikatakan belum memiliki
emosi yang matang.
Yustinus Semiun
(Rizqi, 2011) mendefinisikan kematangan emosi mengacu pada kapasitas seseorang
untuk bereaksi dalam berbagai situasi kehidupan dengan cara-cara yang lebih
bermanfaat dan bukan dengan cara-cara bereaksi anak. Berdasarkan uraian diatas
dapat disimpulakan bahwa kematangan emosi adalah sebagai suatu keadaan dimana
suatu individu dapat menerima suatu keadaan atau kondisi dengan memunculkan
emosi yang sesuai dengan apa yang terjadi padanya tanpa berlebihan atau
meledak-ledak. Sehingga individu itu dapat berpikir secara kritis terlebih
dahulu sebelum mengutarakan atau menyampaikan apa yang dirasakannya sehingga
dapat mengutarakannya pada waktu yang tepat dan dengan cara yang dapat diterima
oleh orang lain.
Menurut Murray (dalam Astuti, 2009) aspek-aspek yang terkandung
dalam kematangan emosi remaja antara lain :
1. Pemberian dan penerimaan cinta, yaitu mampu mengekspresikan cintanya sebagaimana remaja dapat menerima cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang mencintainya
2. Pengendalian emosi, yaitu individu yang matang secara emosi dapat menggunakan amarahnya sebagai sumber energy untuk meningkatkan usahanya dalam mencari solusi.
3. Toleransi terhadap frustasi, yaitu ketika hal yang diinginkan tidak berjalan sesuai dengan keinginan, individu yang matang secara emosi mempertimbangkan untuk menggunakan cara atau pendekatan lain
4.
Kemampuan
mengatasi ketegangan, yaitu pemahaman yang baik akan kehidupan menjadikan
individu yang matang secara emosi; yakni akan kemampuannya untuk memperoleh apa
yang diinginkannya sehingga remaja dapat mengatasi ketegangan.
Berdasarkan
pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek kematangan emosi adalah
pemberian dan penerimaan cinta, pengendalian emosi, toleransi terhadap
frustasi, dan kemampuan mengatasi ketegangan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan emosi menurut Young
(dalam Yusuf, 2011) antara lain:
1.
Lingkungan
Faktor lingkungan tempat hidup termasuk didalamnya yaitu lingkungan keluarga dan masyarakat. Keadaan keluarga yang tidak harmonis, terjadi keretakan dalam hubungan keluarga yang tidak ada ketentraman dalam keluarga dapat menimbulkan persepsi yang negatif pada diri individu. Begitu pula lingkungan sosial yang tidak memberikan rasa aman dan lingkungan sosial yang tidak mendukung juga akan mengganggu kematangan emosi.
2.
Individu
Faktor individu meliputi faktor kepribadian yang dimiliki individu.
Adanya persepsi dalam setiap individu dalam mengartikan sesuatu hal juga dapat
menimbulkan gejolak emosi pada diri individu. Hal ini disebabkan oleh pikiran
negatif, tidak realistik, dan tidak sesuai dengan kenyataan. Jika individu dapat mengendalikan
pikiran-pikiran yang keliru menjadi pikiran yang benar, maka individu dapat
menolong dirinya sendiri untuk mengatur emosinya sehingga dapat mempersepsikan
sesuatu hal dengan baik.
3.
Pengalaman
Pengalaman yang diperoleh individu dalam hidupnya akan mempengaruhi kematangan emosi. Pengalaman yang menyenangkan akan memberikan pengaruh yang posistif terhadap individu, akan tetapi pengalaman yang tidak menyenangkan bila selalu berulang akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap individu maupun terhadap kematangan emosi.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat
disimpulkan faktor yang mempengaruhi kematangan emosi adalah lingkungan,
individu, dan pengalaman yang diperoleh individu.
Hurlock (2004) mengemukakan ada beberapa karakteristik kematangan
emosi pada individu, antara lain:
1.
Kontrol emosi
Individu tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain dan mampu menunggu saat dan tempat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara yang bisa diterima. individu dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial. Individu yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima secara sosial atau membebaskan diri dari energi fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang dapat diterima secara sosial.
2.
Pemahaman diri
Memiliki reaksi emosional yang lebih stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati ke suasana hati yang lain. Individu mampu memahami emosi diri sendiri, memahami hal yang sedang dirasakan, dan mengetahui penyebab dari emosi yang dihadapi individu tersebut.
3.
Penggunaan
fungsi kritis mental individu
Mampu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap situasi tersebut, dan individu juga tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau individu yang tidak matang emosinya.
Berdasarkan uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik individu yang telah mencapai
kematangan emosi adalah individu yang mampu mengendalikan emosinya sesuai
dengan waktu, situasi, dan cara yang dapat diterima; individu mampu memahami
emosi diri sendiri; dan individu mampu menilai dan memutuskan situasi secara
kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional.



Komentar
Posting Komentar