Perilaku Bullying Remaja Ditinjau Dengan Pendekatan Neuropsikologi
Seperti yang kita tahu remaja adalah masa periode baru didalam kehidupan seseorang, yang ditandai dengan perubahan-perubahan didalam diri individu baik perubahan secara fisik, kognitif, sosial dan psikologis. Banyak remaja yang tidak mampu menguasai perubahan yang ada dalam dirinya secara fisik dan psikis, lalu berakhir pada tekanan emosi dan jiwa dan membuat remaja menyimpang dari aturan – aturan yang ada. Selain perilaku agresi yang muncul pada remaja, remaja juga cenderung ingin diperhatikan oleh orang lain atau lingkunganya atau biasa disebut dengan perilaku egoisentrisme yang diaplikasikan dengan perilaku bullying karena egoisentrisme nya yang sangat tinggi.
Neuropsikologi sendiri adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi otak dengan proses dan perilaku psikologis atau hubungan struktur otak yang menghasilkan suatu perilaku pada manusia. Bidang ini muncul karena kebutuhan untuk dilakukan pemindaian dan diagnosis untuk mereka yang mengalami cedera otak dan gangguan perilaku.
Kasus bullying dapat disebutkan jika dua duanya adalah korban, korban tentu adalah korban yang mengalami kekerasan fisik dan verbal. Sedangkan perilaku juga dapat dikatakan korban karena tidak bisa mengontrol tekanan emosi dan ketidakmampuan fungsi otak untuk mengolah perilaku. Bisa jadi si pelaku tidak mampu membedakan perilaku yang baik dan yang tidak baik. Dalam neuropsikologi, perilaku ini dapat terjadi karena trauma. Si pelaku bisa saja mengalami kekerasan didalam lingkungan keluarga lalu tidak dapat mengeluarkan emosinya dan dilampiaskan kepada orang lain. Si korban juga kemungkinan tidak dekat dengan orang tua dan mengakibatkan dirinya tidak ingin bercerita kepada orang tua jika mengalami bullying yang dilakukan oleh teman – temannya.
Dalam neuropsikologi, kemungkinan si pelaku mengalami gangguan pada otak besar pada daerah anterior di lobus frontalis yang berhubungan dengan kemampuan berpikir yang membuat pelaku pembulian tidak dapat berpikir sebagaimana mestinya lalu menghasilkan perilaku yang menyimpang dari aturan – aturan yang ada, apalagi pada masa remaja terjadi perubahan hormon yang membuat remaja tidak mampu mengontrol emosi dan perilakunya, karena remaja masih memiliki sifat yang labil.
Kesimpulannya perilaku bullying pada remaja kemungkinan besar disebabkan oleh trauma dan gangguan pada otaknya yang tidak dapat menghasilkan perilaku yang diinginkan oleh lingkungannya. Ketika terjadi hal ini, yang kita dapat lakukan adalah memberikan edukasi pada kedua belah pihak yang menjadi korban dan tidak menyudutkan salah satu pihak.
Daftar Pustaka
Daulay N. 2017. Struktur Otak dan Keberfungsiannya pada Anak dengan Gangguan Spektrum Autis: Kajian Neuropsikologi. (25), (1), 11-25
Mulachela Z.H. 2017. Perilaku Bullying pada Remaja Ditinjau dari Self Esteem dan Jenis Kelamin: tidak diterbitkan.



Komentar
Posting Komentar