Hubungan Ilmu Psikologi dengan Ilmu Lainnya
Psikologi adalah ilmu yang sudah berkembang sejak abad ke-17
dan abad ke-18 serta tampak pesat kemajuannya pada abad ke-20. Pada awalnya
ilmu ini adalah bagian dari filsafat, sebagaimana ilmu-ilmu yang lain semisal
ilmu hukum, ekonomi dan sebagainya. Namun kemudian memisahkan diri dan berdiri
sebagai ilmu tersendiri.
Semuanya itu bersumber dari Tuhan yang maha esa sebagai pencipta segala sesuatu dan hasil ciptaan itulah yang menjadi objek atau sasaran dan merupakan cabang ilmu pengetahuan. Manusia sebagai makhluk hidup juga merupakan objek dari filsafat, yang antara lain membicarakan soal hakikat kodrat manusia, tujuan hidup manusia dan sebagainya. Sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat, namun masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat. Bahkan dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itupun tetap masih ada hubungan dengan filsafat terutama mengenai hal-hal yang menyangkut sifat hakikat serta tujuan dari ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan
alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologi. Dengan
memisahkan diri dari filsafat, ilmu pengetahuan alami mengalami kemajuan yang
cukup cepat, hingga ilmu pengetahuan alam menjadi contoh bagi perkembangan
ilmu-ilmu lain, termasuk psikologi khususnya metode ilmu pengetahuan
mempengaruhi perkembangan metode dalam psikologi. Karenanya sebagian hali
berpendapat, kalau psikologi ingin mendapatkan kemajuan haruslah mengikuti
kerja yang ditempuh oleh ilmu pengetahuan alam.
Apa yang ditempuh
oleh Fencher dan Weber sangat mempengaruhi cara kerja Wilhelm Wundt, yankni
dengan menggunakan metode psikofisik, yaitu metode yang tertua dalam lapangan
psikologi eksperimental, yang banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam
(wood Worth, 1951). Kenyataan bahwa karena pengaruh ilmu pengetahuan alam
psikologi mendapatkan kemajuan yang cukup cepat, sehingga akhirnya psikologi
dapat diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri terlepas dari filsafat. Walaupun
pada akhirnya metode ilmu pengetahuan alam ini tidak seluruhnya digunakan dalam
lapangan psikologi, oleh karena perbedaan dalam objeknya. Sebab ilmu
pengetahuan alam berobjekan manusia yang hidup, sebagai makhluk yang dinamik,
berkebudayaan, tumbuh berkembang dan dapat berubah pada setiap saat.
Sebagaimana
diungkapkan diatas bahwa psikologi mempunyai hubungan antara lain dengan
bilogi, sosiologi, filsafat dan ilmu pengetahuan alam, tetapi tidak berarti
bahwa psikologi tidak mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain diluar ilmu
tersebut. Justru karena psikologi menyelidiki dan mempelajari manusia sebagai
makhluk dinamis yang bersifat kompleks, maka psikologi harus bekerjasama dengan
ilmu-ilmu lain. tetapi sebaliknya, setiap cabang ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan manusia akan kurang sempurna apabila tidak mengambil
pelajaran dari psikologi. Dengan demikian akan mendapat hubungan yang timbal
balik.
Biologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kehidupan, berarti bahwa semua benda yang hidup menjadi objek biologi. Oleh karena biologi berobjekan benda-benda yang hidup, maka cukup banyak ilmu-ilmu yang tergabung didalamnya. Maka baik biologi maupun psikologi sama-sama membicarakan manusia. Sekalipun masing-masing ilmu itu meninjau dari sudut yang berlainan namun segi-segi tertentu, kedua ilmu itu ada titik-titik pertemuan. Biologi maupun antropologi, keduanya tidak mempelajari perihal proses-proses kejiwaan dan inilah yang dipelajari psikologi.
Seperti telah
dikemukakan diatas, bahwa disamping adanya hal-hal yang sama dipelajari atau
diperbincangkan oleh kedua ilmu itu, misalnya soal keturunan. Dalam hal ini
baik psikologi maupun antropologi ingin membahasnya, misalnya masalah
keturunan. Ditinjau dari segi biologi ialah hal-hal yang berhubungan dengan
aspek-aspek kehidupan yang turun temurun dari satu generasi ke generasi lain.
Soal keturunan juga dibahas/dipelajari oleh psikologi misalnya tentang sifat,
intelegensi dan bakat. Karena itu kurang sempurna kalau kita mempelajari
fisiologi sebab ilmu-ilmu ini amat membantu di dalam mempelajari psikologi.
Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi objek sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia mempelajari manusia di alam masyarakatnya. Karena itu, baik psikologi maupun sosiologi yang sama-sama membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik-titik pertemuan didalam meninjai manusia, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi, bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan yang didorong oleh moral tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat. Karena adanya titik-titik persamaan ini, maka timbullah cabang ilmu pengetahuan dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial. Menurut Gerungan, pertemuan antara psikologi dan sosiologi itulah yang merupakan daerah psikologi sosial.
Kedua ilmu ini hampir tidak dapat dipisahkan satu sama lain, oleh karena mempunyai hubungan timbal balik. Pedagogik sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak dari lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak mendasarkan diri kepada psikologi., yang tugasnya memang menunjukan perkembangan hidup manusia sepanjang masa. Bahkan ciri dan wataknya serta kepribadiannya ditunjukan oleh psikologi. Dengan demikian, pedagogik baru akan tepat mengenai sasaran, apabila dapat memahami langkah-langkahnya sesuai dengan petunjuk psikologi. Oleh karena sangat eratnya tugas antara keduanya, maka timbul educational psycational psychology (ilmu jiwa pendidikan).
Psikologi dan agama merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya, mengingat agama sejak turunya kepada rasul diajarkan kepada manusia dengan dasar-dasar yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi psikologi pula. Tanpa dasar agama sulit mendapat tempat di dalam jiwa manusia. Di dalam agama terdapat ajaran tentang bagaimana agar manusia mau menerima petunjuk tuhannya, sehingga manusia itu sendiri tanpa paksaan bersedia menjadi hamba-Nya yang baik dan taat. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa didalam agama itu penuh dengan unsur-unsur pedagogis yang bahkan merupakan esensi pokok dari tujuan agama diturunkan oleh tuhan kepada umat manusia. Unsur pedagogis dalam agama tidak dapat mempengaruhi manusia kecuali bilamana disampaikan kepadanya sesuai dengan petunjuk-petunjuk psikologi, dalam hal ini psikologi pendidikan.



Komentar
Posting Komentar