Korelasi Lintas Budaya antara Kepuasan Hidup dan Harga Diri
Artikel ini ditulis
untuk membahas secara ringkas mengenai penelitian yang dilakukan oleh Ed Diener
dan Marissa Diener. Penelitian tersebut berupaya ingin mengetahui apakah
kepuasan hidup berbeda antar budaya dan juga apakah karakteristik masyarakat
dapat mempengaruhinya. Apakah harga diri dipengaruhi oleh hal – hal yang
berbeda di setiap budaya dan apakah kepuasan hidup dengan harga diri adalah
konstruksi yang dapat didiskriminasi.
Subjective Well-Being
atau kesejahteraan subjektif
adalah penilaian individu pada kehidupan yang dilaluinya dengan cara kognitif
dan afektif (Maryanti & Ilyas, 2021). Penilaian secara kognitif dapat
dilihat dari penilaian kepuasan hidupnya, kemudian penilaian secara afektif
(emosi) dapat dilihat dari efek positif dan efek negatif (Maryanti & Ilyas,
2021). Individu dengan kesejahteraan subjektif yang tinggi tidak fokus pada
hidup dan apa yang dimiliki oleh orang lain, tetapi fokus terhadap dirinya
sendiri dan salah satu yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif adalah harga
diri atau self esteem (Maryanti & Ilyas, 2021). Penelitian ini akan
membahas mengenai kesejahteraan subjektif dari sisi kepuasan hidup dengan harga
diri yang akan disandingkan dengan karakteristik masyarakat seperti
individualisme, homogenitas budaya dan ekonomi masyarakat dari berbagai budaya
yang berbeda.
Kepuasan Hidup
Life satisfaction atau kepuasan hidup adalah salah satu bagian dari
kesejahteraan subjektif. Kepuasan hidup adalah proses individu dalam menilai
kehidupannya sesuai dengan kriterianya dengan kesadaran kognitif (Pavot &
Diener, 1993). Kepuasan hidup masing – masing individu akan selalu berbeda
penilaiannya, karena indikator penilaiannya ditetapkan sendiri. Kepuasan hidup
dipengaruhi oleh kepribadian, penghasilan, usia, jenis kelamin, ras, pekerjaan,
pendidikan, agama, pernikahan, keluarga, hubungan sosial, peristiwa kehidupan
dan aktivitas dalam kehidupan (Diener, 1984).
Harga Diri
Self esteem atau harga diri adalah salah satu variabel yang
mempengaruhi kepuasan hidup individu. Harga diri adalah penilaian evaluasi
terhadap diri sendiri secara negatif ataupun positif (Srisayekti & Setiady,
2015). Harga diri sangat mempengaruhi keberhasilan kehidupan seseorang karena
meliputi bagaimana individu memandang dirinya sendiri seperti apa dan bagaimana
yang akan berkaitan dengan pembentukan kepribadiannya. Ketika individu tidak
bisa menghargai diri sendiri maka akan kesulitan untuk menghargai orang lain.
Harga diri dapat berkaitan dengan kemampuan akademik, kecakapan sosial, dan
penampilan fisik (Srisayekti & Setiady, 2015). Individu yang memiliki harga
diri yang tinggi akan memiliki kesejahteraan subjektif yang baik dan mampu
beradaptasi dengan tantangan apapun yang dihadapi (Risnawati dkk., 2021).
Prediktor Kepuasan Hidup antar Lintas Budaya
Penelitian ini beranggapan jika kepuasan hidup dari berbagai negara dengan berbeda budaya memiliki perbedaan dalam makna dan pengaruhnya, karena hal ini lah dilakukannya penelitian lintas budaya. Contohnya dalam budaya kolektivis, individu akan mendapatkan kepuasan hidup dari kelompoknya seperti keluarga, teman, dan rekan kerja. Kepuasan keluarga dapat dikatakan sebagai prediktor terkuat dalam kepuasan hidup individu di budaya kolektivis.
Kepuasan Finansial
Penelitian
ini beranggapan jika kepuasan finansial menjadi prediktor dari kepuasan hidup
itu berbeda – beda pada setiap budaya. Kepuasan finansial dapat menjadi
prediktor kepuasan hidup dengan berbagai macam jenis yang ditentukan dari
tingkat ekonomi masyarakat. Pada negara miskin kepuasan finansial sangat
berpengaruh dengan kepuasan hidup, hal tersebut dapat dianalisis dengan
menggunakan teori Maslow yaitu hierarki kebutuhan. Negara miskin, membuat
masyarakatnya akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya, tidak ada pikiran
untuk memenuhi kebutuhan diatasnya seperti rasa memiliki dan aktualisasi diri,
mereka akan fokus untuk memenuhi kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan paling
dasar yang mungkin juga tidak semua masyarakatnya dapat memenuhinya. Mereka
tidak akan terpikir untuk merasa berada di fase kepuasan hidup karena kebutuhan
yang paling dasar saja sulit terpenuhi. Berbeda dengan negara kaya yang
masyarakatnya sudah terpenuhi untuk kebutuhan fisiologisnya dan akan fokus
untuk meningkatkan kebutuhan diatasnya.
Homogenitas Budaya
Homogenitas
budaya adalah menggambarkan situasi kelompok yang memiliki kesamaan budaya,
tradisi, bahasa ataupun norma sosial. Bangsa yang homogen, masyarakatnya akan
memiliki karakteristik yang sama seperti agama, bahasa dan nilai – nilai.
Keluarga, teman dan diri sendiri pada masyarakat homogen mungkin tidak terlihat
menonjol perbedaannya dikarenakan mereka memiliki karakteristik yang sama,
tetapi penelitian ini menggunakan homogenitas budaya untuk menentukan apakah
hal tersebut memoderasi hubungan kepuasan hidup dengan kepuasan teman, keluarga
dan diri sendiri. Meskipun masyarakat homogen memiliki karakteristik yang sama
tetapi dalam tingkat penekanannya pada individu akan berbeda dengan kelompok.
Maka dari itu penelitian ini menambahkan menguji hubungan antara individualitas
dan heterogenitas, kemudian menentukan dampak dari gabungan keduanya terhadap
kepuasan hidup.
Kepuasan Hidup dengan Harga Diri antar Lintas Budaya
Kepuasan hidup adalah
konstruk yang penting dari kesejahteraan subjektif dan harga diri adalah konsep
utama dari penelitian kepribadian. Harga diri dalam penelitian budaya barat khususnya
Amerika adalah faktor kuat yang mempengaruhi kepuasan hidup dikarenakan adanya
individualitas. Berbeda dengan budaya kolektivis yang memiliki tugas menjadi
masyarakat yang saling bergantung, menjadi bagian, dan terlibat dalam hubungan
sosial yang kepuasan hidupnya dapat dipengaruhi oleh kelompoknya. Masyarakat
dalam budaya barat diajarkan untuk bersosialisasi sebagai tanda penyesuaian
mental, sedangkan masyarakat dalam budaya kolektivis ketika sedang stres dan
memilih nyaman dengna diri sendiri dianggap tidak mampu menyesuaikan diri.
Harga diri memiliki peran penting dalam tingkatan kepuasan hidup tergantung
pada budayanya. Pada masyarakat individualistik harga diri memiliki peranan
yang sangat penting pada kepuasan hidup, tetapi pada masyarakat kolektivis
justru tingkatan kepuasan hidupnya dipengaruhi oleh kelompok seperti teman dan
keluarga.
Penelitian ini juga
mengkaji mengenai kesamaan tingkat kepuasan hidup pada perempuan dan laki –
laki. Penelitian ini memperkirakan jika perempuan memiliki tingkat kepuasna
hidup dan harga diri yang lebih rendah dari laki – laki dikarenakan perempuan
secara budaya memiliki sedikit kekuasaan dan sumber daya, sedangkan laki – laki
di sebagian besar budaya memiliki lebih banyak kebebasan dan status yang mana
berhubungan dengan tingkat kepuasan hidup dan harga diri.
Penelitian Ed Diener dan Marissa Diener
Metode
Responden penelitian ini tersebar pada 49 universitas di 31 negara di 5 benua dengan jumlah total 13.118 mahasiswa terbagi menjadi 6.519 perempuan, 6.590 laki – laki dan 9 orang tidak menyatakan jenis kelamin. Sebanyak 80% responden berusia 17 – 25 tahun, sebanyak 90% masih lajang dan 63% responden tidak bekerja. Beberapa negara yang menjadi asal responden yaitu Afrika, Asia, Eropa, Amerika Latin dan Utara, Timur Tengah, dan Pasifik. Responden diminta untuk mengisi lembar demografi, kemudian selanjutnya diminta untuk menilai alat ukur mengenai kepuasan hidup, harga diri, kepuasan keluarga, kepuasan finansial dan kepuasan pertemanan.
Hasil
Empat variabel dari kepuasan terhadap diri sendiri, keluarga, teman dan keuangan berkorelasi dengan cukup kuat pada kepuasan hidup semua responden di seluruh negara. Lalu kemudian apakah besaran korelasi dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat? Pada negara individualitas perempuan memiliki kepuasan hidup dan harga diri yang berkorelasi siginifikan. Pada laki – laki juga ditemukan korelasi kepuasan hidup dan harga diri lebih tinggi pada negara individualistas. Berdasarkan empat variabel diatas, kepuasan finansial adalah prediktor paling lemah untuk harga diri dan kepuasan teman adalah prediktor paling kuat. Berbeda dengan kepuasan hidup, individualisme suatu negara tidak memiliki korelasi dengan tingkat harga diri masyarakatnya. Skor rata – rata yang didapatkan pada seluruh peserta, kepuasan hidup adalah 4,82 dan harga diri adalah 5,06.
Diskusi
Penelitian ini mendapatkan hasil jika masyarakat dengan karakter budaya individualisme suatu negara sangat berpengaruh pada harga diri dan kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi dari pada di negara dengan budaya kolektivistik pada variabel kepuasan diri, keluarga dan teman. Sedangkan untuk kepuasan finansial cenderung bergantung pada pendapatan negara. Kepuasan finansial berkorelasi sangat kuat dengan kepuasan hidup pada negara miskin karena berhubungan dengan hierarki kebutuhan Maslow. Kemudian untuk harga diri juga memiliki korelasi yang berbeda antar negara, cenderung lebih tinggi pada masyarakat heterogenitas.
Daftar Pustaka
Diener, E. (Ed.). (2009). Culture and well-being: The collected works of Ed Diener (Vol. 38). Springer Science & Business Media.



Komentar
Posting Komentar