Perkembangan Sosial Anak dalam Psikologi

 


Perkembangan Sosial Anak

Definisi Anak

Anak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan “Turunan yang kedua atau manusia yang masih kecil”. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. Menurut Ki Hajar Dewantoro (dalam Anita, 2011) definisi anak-anak adalah makhluk hidup yang memiliki kodratnya masing-masing. John Locke (dalam Anita, 2011) memandang anak sebagai kertas putih, atau pada saat lahir anak tidak berdaya dan tidak memiliki apa-apa dan lingkungan yang akan membentuk dirinya, ini disebut dengan teori “Tabula Rasa”. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa anak maupun yang sudah atau  belum lahir ke dunia adalah makhluk kecil yang tidak berdaya dan akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan dari segi fisik maupun psikis sehingga menjadi orang dewasa.

Definisi Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan seorang individu dalam hubungan sosial atau juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma, moral dan tradisi kelompok atau masyarakat kemudian meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama dalam kehidupan bersosial. Hubungan sosial atau sosialisasi merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks (Dinie, 2012). Dalam hal ini pergaulan anak menjadi bertambah luas. Keterampilan dan penguasaan dalam bidang fisik, motorik, mental, emosi sudah lebih meningkat. Anak makin ingin melakukan bermacam – macam kegiatan. Pada masa ini anak dihadapkan pada tuntutan sosial dan susunan emosi baru.

Periode Perkembangan Anak

Pendapat berkaitan dengan periode perkembangan disepanjang rentang kehidupan individu ada banyak sekali dari beberapa tokoh, namun disini hanya mengambil sampai anak-anak saja. Hurlock (1980) menyatakan bahwa tahapan periode perkembangan individu dalam sepanjang rentang kehidupan ada 10 tahap (dalam Christiana, Perkembangan Anak, 2012). Dan berikut jika diambil dalam tahap anak-anaknya saja:

1. Masa/periode prenatal (sejak konsepsi sampai dengan kelahiran)

2. Masa bayi baru lahir/neonatal (dari kelahiran sampai akhir minggu ke dua), yang dapat dibedakan menjadi:

a) Periode partunate, yaitu mulai saat kelahiran sampai antara 15 dan 30 menit sesudah kelahiran.

b) Periode neonate, yaitu dari pemotongan dan pengikatan tali pusar sampai akhir minggu kedua.

3. Masa bayi (mulai akhir minggu kedua – 2 tahun)

4. Awal masa kanak-kanak (usia 2-6 tahun)

5. Akhir masa kanak-kanak (usia 6 sampai 10 atau 12 tahun)

Santrock (1995) juga membagi tahapan perkembangan individu menjadi 8 tahap, lebih sedikit dari tahapan Hurlock (dalam Christiana, Perkembangan Anak, 2012). Sebagai berikut jika diambil dalam tahapan anaknya saja:

1. Masa prakelahiran (prenatal period): sejak pembuahan sampai kelahiran.

2. Masa bayi (infancy): dari kelahiran sampai 18 atau 24 bulan.

3. Masa awal anak-anak (early childhood): dari akhir masa bayi sampai 5 atau 6 tahun.

4. Masa pertengahan dan akhir kanak-kanak (middle and late childhood): kira-kira usia 6-11 tahun, yang kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar, periode ini disebut juga “tahun-tahun sekolah dasar”.

Menurut Papalia dkk. (2008) (dalam Christiana, Perkembangan Anak, 2012) perkembangan individu dibagi menjadi 8 tahap, sama seperti Santrock dan tahap perkembangannya pun juga hampir sama. Namun jika hanya diambil pada perkembangan anaknya saja, sebagai berikut:

1. Periode pralahir.

2. Periode bayi dan balita atau bawah tiga tahun (dari lahir hingga umur 3 tahun).

3. Masa kanak-kanak awal (3-6 tahun).

4. Masa kanak-kanak akhir (6-11 tahun).


Tahap perkembangan Sosial


Tahap perkembangan sosial adalah ketika anak sudah mulai merespons lingkungannya. Erikson (dalam Ana, 77 Permasalahan Anak dan Cara Mengatasinya, 2019) membagi tahapan perkembangan sosial, sebagai berikut:

1. Tahun pertama kelahiran (masa bayi) kepercayaan dan ketidakpercayaan.

2. 1-3 tahun (masa bayi) otonomi serta rasa malu dan ragu-ragu.

3. 3-5 tahun (masa prasekolah) prakarsa/inisiatif dan rasa bersalah.

4. 6 tahun (masa pubertas) tekun/keinginan/industri dan rasa rendah atau inferioritas.

5. 10-20 tahun (masa remaja) identintas dan kebingungan identintas.

6. 20-an, 30-antahun (masa awal dewasa) keintiman/keakraban dan isolasi atau keterkucilan.

7. 40-an, 50-an tahun (masa pertengahan dewasa) semangat berbagi/bangkit dan mandeg/stagnasi.

8. 60-an tahun (masa akhir dewasa) keutuhan/integrasi ego dan keputusasaan.

Tahap perkembangan sosial dalam buku (Yudrik, Psikologi Perkembangan, 2011) menyebutkan bahwa perkembangan sosial dibagi dalam 5 tahapan:

1. Masa kanak-kanak awal (0-3 tahun) subjektif.

2. Masa krisis (3-4 tahun) tort alter.

3. Masa kanak-kanak akhir (4-6 tahun) subjektif menujuk objektif.

4. Masa anak sekolah (6-12 tahun) objektif.

5. Masa kritis II (12-13 tahun) pre-puber (anak tanggung).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor, secara umum yaitu faktor: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.

1.      Keluarga, lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek dalam perkembangan anak adalah keluarga, termasuk salah satunya perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak. Pola pergaulan dan norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga terlebih dahulu.

2.      Kematangan Anak, bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional maupun kemampuan berbahasa. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik yang mampu menjalankan fungsi berbahasa dengan baik.

3.      Status Ekonomi Sosial, kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga. “ia anak siapa”, secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarga anak tersebut. Perilaku anak akan banyak mengikuti kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarga.

4.      Pendidikan, pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan antarbangsa.

5.      Kapasistas Mental, Emosi, dan Intelegensi, kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu, dengan kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang akan sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.


Kesimpulan


    Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi. Meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. Perkembangan sosial dipengaruhi oleh keluarga, kematangan anak, status ekonomi sosial, pendidikan dan kapasitas mental. Kemampuan sosialisasi adalah kemampuan seseorang bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi dengan orang lain di  masyarakat yang mengarah ke hal positif. Tahapan perkembangan sosial anak dibagi menjadi beberapa tahap sesuai usia. Berikut tahapannya masa kanak-kanak awal (0-3 tahun) subjektif, masa krisis (3-4 tahun) tort alter, masa kanak-kanak akhir (4-6 tahun) subjektif menuju objektif, masa anak sekolah (6-12 tahun) objektif, masa kritis II (12-13 tahun) pre-puber (anak tanggung).



Komentar

Postingan Populer